Halaman

Jumat, 11 Desember 2015

KOMUNIKASI TUBUH dalam wacana Psikologi Komunikasi




Jalan pertama di antara semua jalan komunikasi nonverbal adalah tubuh. Kita mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kita seringkali dan secara akurat melalui gerakan wajah, dan gerakan mata. Dalam hal ini kita mengamati komunikasi tubuh dan menelaah berbagai cara di mana tubuh wajah, dan mata mengkomunikasikan makna-makna.

GERAKAN TUBUH
Untuk membahas gerakan tubuh, klsifikasi yang ditawarkan oleh paul Ekman dan Wallaces V. Friesen (1969) sangat berguna. Kedua periset ini membedakan lima kelas (kelompok) gerakan nonverbal berdasarkan asal-usul, fungsi, dank ode perilaku ini (table 1.1)

EMBLIM
Emblim adalah perilaku nonverbal yang secara langsung menerjemahkan kata atau ugkapan. Emblim meliputi, misalnya, isyarat untuk “oke,” “jangan rebut,” “kemarilah,” dan “saya ingin menumpang.” Emblim adalah pengganti nonverbal untuk kata-kata atau ungkapan tertentu. Kita barangkali mempelajarinya dengan cara yang pada dasarnya sama dengan kita mempelajai kata-kata tanpa sadar, dan sebagian besar melalui proses peniruan.
Walaupun emblim bersifat ilmiah dan bermakna, mereka mempunyai kebebasan makna seperti sebarang kata apa pun dalam sebarang bahasa. Oleh karenanya, emblim dalam kultur kita sekarang belum tentu sama dengan emblim dalam kultur 300 tahun yang lalu atau dengan emblim dalam kultur lain.

Table 1.1 Lima gerakan Tubuh














Ilustrator
Illustrator adalah perilaku nonverbal yang menyertai dan secara harfiah “mengilustrasikan” pesan verbal. Dalam mengatakan “ ayo, bangun,” misalnya, anda mungkin menggerakkan kepala dan tangan anda kearah menaik. Dalam menggambarkan lingkaran atau bujur sangkar anda mungkin sekali membuat gerakan berputar atau kotak dengan tangan anda. Begitu biasanya kita melakukan gerakan demikian sehingga bagi kita untuk menukar-nukarnya atau menggunakan gerakan yang tidak tepat.
Kita hanya menyadari sebagian illustrator yang kita gunakan. Kadang-kadang illustrator ini perlu kita perhatikan. Illustrator bersifat lebih alamiah, kurang bebas, dan lebih universal ketimbang emblim. Mungkin sekali illustrator ini mengandung komponen-komponen yang sudah dibawa sejak lahir selain juga yang dipelajari.

Affect Display
Affect Display adalah gerakan-gerakan yang mengandung makna emosional, gerkan ini memperlihatkan rasa marah dan rasa takut, rasa gembira dan rasa sedih, semangat dan kelelahan. Ekspresi wajah demikian “membuka rahasia kita” bila kita berusaha menampilkan citra yang tidak benar dan membuat orang berkata, “Anda kelihatan kesal hari ini, mengapa?”  Tetapi, kita dapat secara sadar mengendalikan affect display, seperti actor yang memainkan peran tertentu. Affect display kurang bergantung pada pesan verbal ketimbang pada illustrator. Selanjutnya, kta tidak secara sadar mengendalikan affect display seperti yang kita lakukan pada emblim atau illustrator. Affect display dapat tidak disengaja – seperti ketika gerakan-gerakan ini membuka rahasia kita – tetapi mungkin juga disengaja. Kita mungkin ingin memperlihatkan rasa marah, cinta, benci, atau terkujut dan biasanya kita mampu melakukannnya dengan baik.

Regulator
Regulator adalah perilaku nonverbal yang “mengatur,” memantau, memelihara, atau mengendalikan pembicaraan orang lain. Ketika anda mendengarkan orang lain, anda tidak pasif. Anda menganggukkan “mm-mm” atau “tsk”. Regulator jelas terikat pada kultur dan tidak universal.
Regulator mengisyaratkan kepada pembicara apa yang kita harapkan mereka lakukan misalnya, “Teruskanlah,” “ Lalu apalagi?,” “Saya tidak percaya,” atau “Tolong agak lambat sedikit.” Bergantung kepada kepekaan mereka, mereka mengubah perilaku sesuai dengan pengarahan dari regulator.

Adaptor
Adaptor adalah perilaku nonverbal yang bila dilakukan secara pribadi atau dimuka umum tetapi tidak terlihat berfungsi memenuhi kebutuhan tertentu dan dilakukan sampai selesai. Misalnya, bila anda sedang sendiri mungkin anda menggaruk-garuk kepala anda sampai rasa gatal hilang. Di muka umum mungkin, bila orang-orang melihat, anda melakukan perilaku adaptor ini hanya sebagian. Anda mungkin, misalnya, hanya menaruh kepala anda di kepala dan menggarukkannya sedikit, tetapi barangkali tidak akan menggaruk cukup keras untuk menghilangkan gatal.

GERAKAN WAJAH
Gerakan wajah mengkomunikasikan macam-macam emosi selain juga kualitas atau dimensi emosi. Kebanyakan periset sependapat dengan paul ekman, Wallace V. Friessen, dan Phoebe Ellesworth (1972) dalam menyatakan bahwa pesan wajah dapat mengkomuikasikan sedikitnya “kelompok emosi” berikut: kebahagiaan, keterkejutan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan kemuakan/penghinaan. Periset nonverbal Dele Leathers (1986) mengemukakan bahwa gerakan wajah mungkin juga mengkomunikasikan kebingungan dan ketepatan hati.

Affect Display
Keenam emosi yang diidentifikasi oleh Ekman dan rekan-rekannya secara umum dinamakan affect display primer. Ini merupakan emosi tunggal yang relatif murni. Keadaan emosi yang lain dan tampilan wajah yanglainmerupakan kombinasi dari berbagai emosi primer ini, dan dinamakan bauran affect. Sekitar 33 bauran affect (affect blend) telah diidentifikasi. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai affect ini dengan berbagai bagian dari wajah. Jadi, misalnya, anda mungkin mengalami rasa takut dan rasa muak sekaligus. Mata dan kelopak mata anda mungkin mengisyaratkan ketakutan, sedangkan gerakan hidung, pipi, dan daerah mulut anda mungkin mengisyaratkan rasa muak.

Ketepatan Enkoding-Dekoding
Banyak riset telah dilakukan menyangkut seberapa tepat kita dapat melakukan encoding dan dkoding emosi wajah. Satu maslah dalam menjawab pertanyaan ini adalah bahwa memisahkan kemampuan encoder dari kemampuan decoder adalah sulit. Jadi, seseorang mungkin saja sangat mahir dalam mengkomunikasikan emosi, tetapi penerimaannya mungkin ternyata tidak peka. Sebaliknya, penerima mungkin saja pandai dalam mengartikan emosi, tetapi pengirimnya mungkin tidak mampu.
Keteapatan juga bervariasi menurut emosi itu sendir. Beberapa emosi lebih mudah dienkoding dan, didekoding ketimbang yanglain. Ekman, Friesen, dan Carlsmith (Ekman, Friesen, & Ellsworth, 1972), misalnya, melaporkan bahwa orang menduga kebahagian dengan ketepatan 55 sampai 100 %, ketekejutan antara 38 sampai 86 %, dan kesedihan 19 sampai 88 %. Cobalah mengkomunikasikan rasa terkejut dengan hanya menggunakan gerakan wajah. Lakukanlah ini di depan cermin dan cobalah keterkejutan seperti kebanyakan orang, barangkali anda mengangkat dan mengerutkan alis, mengerutkan dahi, membuka mata lebar-lebar, mulut menganga, dan bibir terbuka.
Paul Ekman, (Ekman, Friesen, & Tomkins, 1971) telah mengembangkan apa yang dinamakannya FAST (Facial Affect Scoring Technique. Dalam teknik ini, wajah dibagi menjadi tiga bagian utama: alis mata dan dahi, mata dan kelopak mata, dan bagian bawah wajah dari batang hidung kebawah. Judges kemudian mencoba mengidentifikasi berbagai emosi dengan mengamati bagian-bagian wajah yang berbeda dan menulis uraian seperti yang dilakukan untuk rasa terkejut di atas. Bagian-bagian ertentu dari wajah tampaknya paling cocok untuk mengkomunikasikan jenis emosi tertentu. Sebagai contoh, mata dan kelopak mata paling baik untuk mengkomunikasikan rasa takut, sedangkan hidung, pipi, dan daerah mulut paling baik untuk mengkomunikasikan rasa sebal.

Ekspresi Mikromomentari
Pertanyaan yang paling sering diajukan adalah mengenai apakah kita dapat benar-benar menyembunyikan emosi atau emosi ini bgaimanapun akan terungkap tanpa kita sadari. Apakah kesombongan kita terpancar melalui wajah tanpa kita menyadarinya atau bahkan tanpa orang lain menyadarinya? Walaupun belum ada jawaban yang sempurna atas pertanyaan ini, beberapa indikasi bahwa kita memang mengungkapkan emosi ini tanpa sadar dating dari riset tentang ekspresi mikromomentari (micromomentary expressions). Haggard dan Isaacs (1966), dalam menelaah film tayang lambat tentang pasien terapi, melihat ekspresi pasien tersebut berubah dratis. Misalnya, cemberut akan berubah menjadi seyum dan kemudian dengan cepat kembali cemberut lagi. Jika film ini diputar dengan kecepatan normal, seyuman tersebut tidak akan terlihat. Gerakan ekstrim singkat ini berlangsung hanya kurang dari 0,4 detik. Beberapa ahli teori berpendapat bahwa ekspresi ini menunjukkan keadaan emosi pasien yang sebenarnya.

GERAKAN MATA
Pesan-pesan yang dikomunikasikan oleh mata bervariasi bergantung pada durasi, arah, dan kualitas dari perilaku mata. Sebagai contoh, dalam setiap kultur ada aturan ketat, meskipun tidak dinyatakan mengenai berapa lama durasi kontak mata yang patut. Dalam kultur Amerika, lama pandangan rata-rata 2,95 detik. Durasi saling pandang (dua orang saling memandang) adalah 1,18 detik (Argyle, 1988; Argyle & Ingham, 1972). Bila kontak mata terjadi lebih singkat, kita dapat mengira orang ini tidak berminat, malu, atau sibuk. Bila waktu yang patut dilampaui, kita umumnya menganggap hal ini menunjukkan minat yang berlebihan.
Arah pandangan mata juga mengkomunikasikan sesuatu. Dalam kultur Amerika, pandangan kita secara berganti-ganti diarahkan ke wajah lawan bicara, kemudian menjauh, kemudian kembali ke wajahnya, dan seterusnya. Bila aturan arah dilanggar, makna yang berbeda akan terkomunikasikan minat yang terlalu besar atau terlalu rendah, sadar-diri, kegugupan selama interaksi, dan sebagainya. Berapa lebar atau sempit bukaan mata kita selama interaksi juga mengkomunikasikan makna, khususnya tingkat minat dan emosi-emosi seperti keterkejutan, ketakutan, dan kesebalan.

Fungsi Komunikasi Mata
Di antara periset-periset lain, Mark knapp (1978) mengemukakan empat fungsi utama komunikasi mata.
Mencari Umpan Balik. Kita seringkali menggunakan mata kita untuk mencari umpan balik dari orang lain. Dalam berbicara dengan seseorang, kita memandangnya dengan sungguh-sungguh, seakan-akan mengatakan,”Nah, bagaimana pendapat anda?” Seperti mungkin anda duga, pendengar memandang pembicara lebih banyak ketimbang pembicar memanandang pendengar. Riset mengungkapkan bahwa persentase waktu interaksi yang digunakan untuk memandang sambil mendengarkan adalah antara 62 dan 75 persen. Sedangkan persentase waktu yang digunakan untuk memandang sambil berbicara adalah antara 38 dan 41 persen (argylr,1988; Knapp, 1978).
Kaum wanita lebih banyak melakukan kontak mata dan melakukannya lebih lama, baik dalam berbicara maupun dalam mendengarkan, ketimbang kaum pria. Ini terjadi baik bila wanita itu berinteraksi dengan wanita lain maupun dengan pria. Perbedaan perilaku mata ini mungkin disebabka oleh kecendrungan wanita lain maupun dengan pria. Perbedaan perilaku mata ini mungkin disebabkan oleh kecendrungan wanita untk menampakkan emosi mereka lebih daripada kaum pria; kontak mata adalah salah satu cara paling efektif untuk mengkomunikasikan emosi.penjelasan lain yang mungkin, kata Evan Marshall (1983), adalah bahwa wanita lebih terbiasa mencari umpan balik positif dari orang lain ketimbang pria, dan karenanya mungkin menggunakan kontak mata dalam usaha memperoleh umpan balik visual.
Menginformasikan Pihak Lain untuk Berbicara. Fungsi adalah menginformasikan pihak lain bahwa saluran komunikasi telah terbuka dan bahwa ia sekarang dapat berbicara. Kita melihat ini dengan jelas di ruang kuliah, ketika dosen mengajukan pertanyaan dan kemudian menatap salah seorang mahasiswa. Tanpa mengatakan apa-apa, dosen ini jelas mengharapkan mahasiswa tersebut untuk menjawab pertanyaannya.
Mengisyaratkan Sifat Hubungan. Fungsi ketiga adalah mengisyaratkan sifat hubungan antara dua orang misalnya, hubungan positif yang ditandai dengan pandangan terfokus yang penuh perhatian, atau hubungan negative yang ditandai dengan penghindaran kontak mata. Kita juga dapat mengisyaratkan tata hubungan status dengan mata kita. Ini khususnya menarik karena gerakan mata yang sama mungkin mengisyaratkan subodinasi atau superioritas. Seseorang atasan, misalnya, mungkin menatap bawahannya atau tidak mau melhatnya langsung. Demikian pula, bawahan mungkin menatap langsung atasannya atau barangkali hanya menatap lantai.
Kita mengisyaratkan kekuatan atau kekuasaan melalui perilaku dominansi visual(Exline, Ellyson, & Long, 1975), pembicara yan berkemampuan rat-rata menjaga tingkat kontak mata yang tinggi ketika mendengarkan dan tingkat kontak mata yang rendah ketika berbicara. Bila seseorang yang ebrkuasa ingin mengisyaratkan dominasi, mereka mungkin membalik pola ini. Mereka mungkin, misalnya, menjaga kontak mata yang tinggi ketika berbicara dan kontak mata yang rendah ketika mendengarkan. Gerakan mata juga dapat mengisyaratkan apakah hubungan gerakan mata yang mengungkapakan sifat hubungan yang berbeda-beda ini begitu miripnya, kita seringkali memanfaatkan informasi dari bagian tubuh lainnya, terutama wajah, untuk mendekode pesan sebelum membuat kesimpulan akhir.
Mengkompensasi Bertambahnya Jarak Fisik. Akhirnya, gerakan mata dapat mengkompensasi bertambah jauhnya jarak fisik. Dengan melakukan kontak mata, kita secara psikologis mengatasi jarak fisik yang memisahkan kita. Bila kita menangkap pandangan mata seseorang dalam sebuah pesta, misalnya, secara psikologis kita menjadi dekat meskipun secara fisik jarak di antara kita jauh. Tidaklah mengherankan, kontak mata dan ekspresi lain yang menunjukkan kedekatan psikologis, seperti pengungkapan-diri berhubungan secara positif; jika yang satu meningkat, begitu juga yang lain.

Fungsi Penghindaran Kontak Mata
Ahli sosiologi, Erving Goffman, dalam Interaction ritual (1967), mengatakan bahwa mata adalah “penggangu yang hebat.” Bila kita menghindari kontak mata atau mengalihkan pandangan kita, kita membantu orang lain menjaga privasi (Privacy) mereka. Kita sering melakukan hal ini bila ada pasangan yang bertengkar di muka umum. Kita mengalihkan pandangan dari mereka (meskipun mungkin mata kita terbuka lebar) seakan-akan mengatakan, “ kami tidak ingin mencampuri; kami menghormati hak anda.” Goffman menamai perilaku ini inatensi masyarakat civil innatention).
Penghindaran kontak mata dapat mengisyaratkan ketiadaan minat terhadap seseorang, pembicaraan, atau rangsangan visual tertentu. Adakalanya, seperti burung unta, kita menyembunyikan mata kita untuk menghindari rangsangan yang tidak menyenangkan. Perhatikanlah, misalnya, betapa cepa t orang menutup mata mereka bila menghadapi hal yang sangat tidak menyenangkan. Cukup menarik juga, meskipun hal yang tidak menyenangkan itu berbentuk suara (auditory), kita cenderung menghindarinya dengan menutup mata. Kadang-kadang kita menutup mata untuk menghindari rangsangan visual dan dengan demikian memperkuat alat indera kita yang lain. Misalnya, kita sering mendengarkan musik dengan mata terpejam.

Pembesaran Pupil Mata
Selain terhadap gerakan mata, banyak pula riset yang telah dilakukan menyangkut pembesaran pupil mata (pupil dilation), atau pupilometri, sebagian besar sebagai akibat dorongan dari ahli psikologi Ekhard Hess (1975). Pada abad kelimabelas dan keenambelas di Italia, kaum wanita biasa menetaskan belladonna (secara harfiah berarti “wanita cantik”) ke mata mereka untuk membesarkan pupil mata sehingga mereka kelihatan lebih menarik. Riset modern mendukung jalan pemikiran wanita-wanita ini; pupil mata yang membesar memang dianggap lebih menarik.
Pupil mata juga menunjukkan minat dan tingkat kebangkitan emosi kita. Pupil mata kita membesar bila kita tertarik pada sesuatu tau bila secara emosiaonal kita terangsang. Barangkali kita menganggap pupil mata yang membesar sebagai menarik karena kita menggap pupil mata yang membesar dari seseorang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tertarik pada kita. Secara lebih umum, Ekhard Hess berpendapat dengan dukungan eksperimen dan intuisi bahwa pupil membesar sebagai reaksi terhadap sikap atau oyek yang dinilai positif, dan mengecil sebagai reaksi terhadap sikap atau obyek yang dinilai negative.

Wacana Masa Bimbingan Mahasiswa - Pola dasar Training



Arahan Training

Adalah suatu pedoman yang dijadikan petunjuk atau penuntun yang menggambarkan arah yang harus dituju dalam keseluruhan proses pertrainingan Mahasiswa Baru. Arah pertrainingan sangat erat kaitannya dengan tujuan perkaderan, dan tujuan OSPEK sebagai tujuan umum yang hendak dicapai HIMAKOM merupakan titik sentral seluruh kegiatan dan usaha-usaha HIMAKOM. Oleh karena itu tujuan OSPEK merupakan titik sentral dan garis arah setiap kegiatan perkaderan, maka ia merupakan ukuran tau norma dari semua kegiatan HIMAKOM.

1.            Jenis-Jenis Training
1.1.      Traning Formal
Training Formal adalah training berjenjang yang diikuti oelh Mahasiwa Baru, dan setiap Jnejang merupakan prasyarat untuk mengikuti jenjang selanjutnya. Training formal HIMAKOM terdiri dari : Dasar-Dasar Kemahasiswaan I(Basic Training), Dasar-Dasar Kemahasiswaan II (Intermediate Training), Dasar-Dasar Kemahasiswaan (Advence Training)

1.2.      Training In-Formal
Training in-formal adalah training yang dilakukan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan profesionalisme, kemahasiswaan, kemasyarakatan, kepemimpinan serta keorganisasian. Training terdiri dari Bulan Baca, Diskusi,, Pelatihan Instruktur, Latihan Khusus Keperempuanan bagi yang menyukainya, Up-grading Materi, Pelatiahan Minat Bakat, dan lain sebagainya.

2.            Tujuan Training menurut jenjangnya dan jenis
Tujuan training perjenjang dimaksudkan sebagi rumusan sikap, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mahasiswa baru setelah mengikuti jenjang Training Kemahasiswaan tertentu, Yakni Dasar-Dasar Kemahasiswaan I, II, dan III. Sedangkan tujuan menurut jenis adalah rumusan sikap, pengetahuan dan kemampuan mahasiswa baru, bauk kemampuan intelektualitas maupun kemampuan keterampilan setelah mengikuti traning atau pelatiahan tertentu yakni berupa training formal dan informal.
2.1.      Tujuan Training Formal
         2.1.1     Dasar-Dasar Kemahasiswaan I
“Terbinanya kepribadian yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi peranannya dalam bermasyarakat serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa.”
2.1.2    Dasar-Dasar Kemahasiswaan II
“Terbinannya kader yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola HIMAKOM serta berjuang untuk meneruskan dan mengembannya”
2.1.3     Dasar-Dasar Kemahasiswaan III
“terbinanya kader pemimpin yang mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara professional dalam gerak perubahan social”

2.2.      Training In-formal
“Terbinanya kader yang memiliki skill dan profesionalisme dalam bidang manajerial, keinstrukturan, keorganisasian, kepemimpinan dan kewirausahaan dan profesiaonalisme lainnya.”


3.            Target Training Perjenjang
3.1.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi I
  • Memiliki kesadaran menjalankan keilmuannya dalam kehidupan sehari-hari
  • Mampu meningkatkan kemampuan akademis
  • Memiliki kesadaran akan tanggung jawab keumatan dan kebangsaan
  • Memiliki kesadaran berorganisasi
3.2.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi II
·         Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif
  • Memiliki kemampuan manajerial
  • Memiliki kepekaan terhadap aspek-aspek kehidupan dan nrma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
  • Memiliki kepekaan terhadap dasar-dasar metodelogi ilmu sehingga mampu mengembangkan ilmu komunikasi.
3.3.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi III
  • Memiliki kemampuan kepemimpinan yang amanah serta mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional dalam dinamika perubahan sosial.
  • Memiliki Kemampuan mentransformasikan pemikiran konsepsional yang sesuai dengan realitas yang ada dan tidak mengada-ada realitas (hyperealitas).
  • Memiliki kemampuan menganalisa fenomena sosial politik yang dipenuhi dengan permainan tanda-tanda semu.

Manajemen Training

1.            Methode Penerapan Kurikulum
Kurikulum yang terdapat dalam pedoman merupakan penggambaran tentang methode dari training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat hubungannya dengan masalah yang menyangkut methode-methode yang dipergunakan dalam training. Demikian pula materi training memiliki keterpaduan dan kesatuan dengan methode yang ada dalam jenjang training. Dalam hal ini, untuk penerapan kurikulum training ini perlu diperhatikan beberapa aspek.
1.1.            Penyusunan jadwal materi training. Jadwal taining adalah sesuatu yang merupakan gambaran tentang isi dan bentuk-bentuk training. Oleh sebab itu perumusan jadwal training hendaknya menyangkut masalah-masalah:
·         Urutan materi hendaknya dalam penyusunan suatu training perlu diperhatikan urutan-urutan tiap-tiap materi yang harus memiliki koleraaasi dan tidak berdiri sendiri (Asas Integratif). Dengan demikian materi-materi yang disajikan dalam training selalu mengenal prioritas dan berjalan secara sistematis dan terarah, karena dengan cara seperti itu akan menolong peserta dapat memahami materi dalam training secara menyeluruh dan terpadu.
  • Materi dalam jadwal training harus selalu disesuaikan dengan jenis jenjang Training.

1.2.            Cara atau bentuk penyampaian materi training. Cara penyampaian materi-materi training adalah gabungan anatara ceramah dan diskusi/dialog. Semakin tinggi tingkatan suatu training atau semakin tinggi tingkat kematangan peserta training, maka semakin banyak forum-forum komunikasi idea (dialog/diskusi). Suatu Materi harus disampaikan secara diskutif, artinya instruktur bersama master of training berusaha memberikan kesempatan-kesempatan.
1.3.            Adanya penyegaran kembali dalam pengembangan gagasan-gagasan kreatif dikalangan anggota trainer; Forum training sebagai penyegar gagasan trainers, sedapat mungkin dalam forum tersebut tenaga instruktur dan master of training merupakan pioneer dalam gagasan kreatif. Meskipun gagasan-gagasan dan problea-problema yang disajikan dalam forum belum sepenuhnya ada penyelesaian secara sempurna. Untuk menghindari pemberian materi secara indoktrinatif dan absolustik maka penyuguhan materi hendaknya di targetkan pada pemberian alat-alat ilmu pengetahuan secara elementer. Dengan demikian pengembangan kreasi dan gagasan lebih banyak diberikan pada trainers.
1.4.            Usaha menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesame unsure individu dalam forum training; untuk menumbuhkan kegairahan dan suasana dinamik dalam training, maka forum semacam itu hendaknya merupakan bentuk dinamika group. Karena itu forum training harus mampu memberikan “chalange” dan menumbuhkan respon yang sebesar-besarnya. Hal ini dapat dilaksanakan oleh instruktur, asisten instruktur dan master of training.
1.5.            Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setara) antara sesame unsure individu dalam forum training; menciptakan kondisi equal antara segenap unsure dalam training berarti mensejajarkan dan menyetarakan semua unsure yang ada dalam training. Problem yang dihadapi adanya kenyataan-kenyataan “kemerdekaan individu” dengan mengalami corak yang lebih demokratis. Dengan demikian pula perbedaan secara psikologis unsure-unsur yang ada akan lebih menipis disebabkan hubungan satu dengan lainnya diwarnai dengan hubungan kekeluargaan antara senior dan yunior.
1.6.            Adanya keseimbangan dan keharmonisan antara methode training yang dipergunakan dalam tingkat-tingkat training; keseimbangan dan keharmonisan dalam methode training yakni adanya keselarasan tujuan OSPEK dan target yang akan dicapai dalam suatu training. Meskipun anatr jenjang/forum training memiliki pebedaan-perbedaan karena tingkat kematangan peseta sendiri.

2.                  Kurikulum Training
2.1.            Materi Training Kemahasiswaan I

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Sejarah Perjuangan Mahasiswa
Alokasi Waktu :
3 Jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat   memahami sejarah dan dinamika Perjuangan Mahasiswa

Tujuan Pembeelajaran Khusus

  1. peserta dapat menjelaskan latarbelakang mahasiswa
  2. peserta
Metode :
Ceramah, Tanya jawab, diskusi
Evaluasi :
Memberikan test objektif/subjektif dan penuigasan dalam bentuk resume

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
MATERI :
Semiotika I
ALOKASI WAKTU :
3 JAM
Tujuan pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami latar belakang Perumusan dan kedudukan semiotika serta substansi materi secara garis besar

Tujuan pembelajaran khusus

  1. Peserta dapat menjelaskan sejarah Perumusan Semiotika dan kedudukannya sebagai disiplin ilmu


Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Management Kepemimpinan
Alokasi Waktu :
3 Jam

Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami pengertian, dasar-dasar, sifat dan fungsi kepemimpinan, dan manajemen

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            Peserta mampu menjelaskan pengertian dasar-dasar fan sifat serta fungsi kepemimpinan
2.            Peserta mampu menjelaskan pentingnya fungsi kepemimpinan dan manajeman dalam organisasi
3.            Peserta dapat menjelaskan dan mengapresiasikan kharakteristik kepemimpinan dalam sudut mana pun.
Metode :
Ceramah, diskusi, Tanya jawab, studi kasus, simulasi
Evaluasi :
Test Partisipatif, test Objektif/subjektif

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Filsafat Ilmu
Alokasi Waktu ;
4 jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami pengertian, kegunaan akal dgan akal bias mencari kebenaran

Tujuan Pembelajaran Khusus



2.2.            Materi Orientasi Mahasiswa Komunikasi II

Jenjang :
Training kemahasiswaan II
Materi :
Teori-teori Perubahan Sosial
Alokasi Waktu :
4 jam

Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami dan menjelaskan tentang perubahan social

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            peserta dapat menjelaskan teori-teori perubahan sosial
2.            peserta dapat menjelaskan dan merumuskan tentang perubahan sosial.

Metode :
Ceramah, diskusi, studi kasus
Evaluasi :
Test objektif/subjektif, penugasan dengan menganalisa kasus sosial.

Jenjang :
Training Kemahasiswaan II
Materi :
Manajemen Kepemimpinan
Alokasi waktu :
3 jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami dan meiliki kedalaman pengetahuan tentang manajeman dan kepemimpinan

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            Peserta memiliki kedalaman pengetahuan dalam kepemimpinan, manajeman dan organisasi
2.            Peserta dapat merumuskan serta merencanakan pelaksanaan Manajemen Kepemimpinan      

Metode :
Ceramah, diskusi, Studi Kasus
Evaluasi :
Test objektif, subjektif, analisis kasus


2.3.              Materi Orientasi Mahasiswa Komuikasi III


3.                  Metode Training

4.