Aspirasi dari hati yang terkecil

Sabtu, 29 November 2025

Gema Mereka Yang Bangun

BAGIAN I: THE QUIET WEAVER (Penunang Senyap)

BAB 1: JARING ARKA


Langit Jakarta selalu memiliki warna yang sama setelah pukul dua pagi: Abu-abu kotor yang diwarnai oleh neon lelah dari papan reklame yang mati-mati segan. Arka tidak pernah melihatnya. Ia selalu menatap ke bawah, ke sepotong kayu bundar dan untaian kawat tembaga ultra-halus di meja kerjanya.

Ia sudah mati. Tentu saja, ia masih bernapas, jantungnya berdetak, dan tagihan listriknya masih datang. Tetapi esensinya, emosinya, telah hilang. Hanya ada kekosongan yang dingin, selimut putih tebal yang mematikan segala rasa. Depresi klinis. Namun, Arka lebih suka menyebutnya kondisi non-eksistensi fungsional. 

Di tangannya, ia memegang masterpiece-nya: Nexus Weaver. Ini adalah Dreamcatcher versi 2.0. Bukan serat alami dan bulu ayam, melainkan cincin aluminium yang ditenun dengan kawat tembaga berdiameter mikrometer, membentuk matriks Faraday yang presisi. Di pusat jaring terdapat sebuah kristal kecil, penangkap dan pemancar gelombang otak. Tujuan Nexus Weaver bukan lagi menangkal mimpi buruk, melainkan mencari, memetakan, dan melakukan "Dream Travel" terkontrol.

"Waktunya, Arka. Jika emosi itu hilang, berarti ia ada di suatu tempat. Aku akan menariknya kembali," gumam Arka. Suaranya datar, tanpa intonasi.

Proyeksi

Malam itu, tujuannya adalah Koneksi Diri Tingkat Omega. Ini berarti mendorong batas frekuensi Delta, memasuki alam bawah sadar yang paling dalam, tempat kenangan dan trauma tersembunyi. Arka menyalakan alat-alatnya: osiloskop yang berkedip, monitor pemetaan otak 3D yang menampilkan gelombang otak Lambda-nya yang tenang. Ia mengenakan headband sensor, meletakkan Nexus Weaver tepat di atas kepalanya (menggantungnya di atas tempat tidur terasa terlalu klise), lalu menelan pil penenang dosis rendah.


Ia memejamkan mata. Listrik statis kecil mendesis dari jaring Nexus Weaver.

V_t=(L_0.B)/(Z_e+X_c )

(Vt adalah vektor transfer energi mimpi; L0 adalah frekuensi Lambda Arka; B adalah batas Beta eksternal; Ze adalah resistansi jaring. Arka selalu memikirkan mimpinya dalam persamaan.)

Dia jatuh. Bukan jatuh bebas, melainkan tenggelam yang tenang. Warna-warna mati di sekelilingnya memudar menjadi hitam pekat. Dia memasuki ruang bawah sadarnya, Sunyi, Dingin, Ruang hampa yang ia kenali dengan baik. Tiba-tiba, osiloskop berteriak di dunia nyata. Gelombang Lambda-nya yang stabil terputus.

Sinyal Asing

Di tengah kegelapan bawah sadarnya, Arka merasakan sesuatu. Itu bukan bagian dari dirinya. Itu Adalah sebuah Gema. Gema itu adalah frekuensi asing yang kuat, seperti short circuit yang terjadi pada koneksi Wi-Fi yang seharusnya pribadi. Arka mencoba menarik diri, tetapi Nexus Weaver sudah terkunci pada sinyal tersebut.Gema itu berubah menjadi Suara. Bukan suara dalam, bukan bisikan hati. Ini adalah rekaman suara yang jernih, seperti seseorang sedang berbicara ke mikrofon.

"Tujuh ratus tiga puluh lima. Bukan itu. Angka itu salah. Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara. Aku sudah mati, tapi mereka—"

Suara itu tercekat, diikuti oleh desah putus asa, bukan dari rasa sakit fisik, tetapi dari keterasingan eksistensial yang mengerikan. Ada keakraban yang aneh dalam keputusasaan itu.

Arka tersentak. Delusi  Cotard-nya sendiri—keyakinannya bahwa dia kosong dan mati—terdengar seperti gaung dari suara asing ini. Tapi, suara ini berasal dari luar.

Pertanyaan menggantung:

  Siapa yang berbicara?

  Mengapa suara itu terdengar begitu jelas di alam bawah sadarnya, melangkahi batas-batas privasi kognitif?

  Apa maksud dari "Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara"?

Arka memutus koneksi dengan paksa. Ia terlempar kembali ke kamarnya, berkeringat dingin untuk pertama kalinya dalam setahun. Matanya terpaku pada monitor osiloskop. Garis gelombang aneh, bukan Beta atau Gamma, tetapi sesuatu yang Arka sebut "Frekuensi Z", telah terekam selama 3,4 detik.

Frekuensi itu jelas merupakan produk buatan manusia, dirancang untuk memasuki dan mengganggu alam bawah sadar, namun dilepaskan secara liar.

Arka tidak lagi mencari emosinya yang hilang. Ia telah menemukan sesuatu yang lebih besar, dan jauh lebih berbahaya. Sesuatu, Bukti bahwa seseorang telah menemukan cara untuk meretas kesadaran manusia(Space Considering Back-door).


BAB 2: FREKUENSI Z DAN PASIEN NOL

Arka: Mencari Sumber

Tangan Arka gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena kejanggalan. Ia tidak merasakan ketakutan—lagi pula, ia sudah "mati" secara emosional—tetapi ia merasakan keganjilan. Itu lebih buruk daripada rasa takut.

Ia menghabiskan sisa malam itu mencoba menganalisis "Frekuensi Z" yang terekam oleh Nexus Weaver. Itu adalah gelombang pembawa yang sangat rendah (sekitar 4 Hz, mendekati batas Delta), tetapi dikodekan dengan spike sub-vokal yang terstruktur.

"Ini bukan gelombang alami. Ini Infrasound yang dimodifikasi untuk resonansi kognitif," bisik Arka, membaca hasil spektrumnya.

Arka menyadari bahwa frekuensi itu, jika disiarkan dengan intensitas yang tepat, dapat memanipulasi alam bawah sadar. Dan yang terpenting: suara yang ia dengar, "Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara," terintegrasi sempurna dengan gelombang pembawa. Itu bukan noise acak. Itu adalah pesan yang disengaja.

Arka memutuskan untuk mencari sinyal itu di dunia nyata. Ia tahu frekuensi 4 Hz tidak mudah dilacak. Ia menggunakan database publik tentang izin transmisi radio dan gelombang elektromagnetik. Tidak ada yang cocok. Saat mencari secara online, ia melihat berita utama yang mendominasi semua feed-nya: "Sengketa Suara Nasional Diperkirakan Memanas, Sidang MK Pekan Depan."

Arka mengabaikannya—politik tidak pernah relevan dengan kekosongan emosionalnya—tetapi sebuah artikel kecil menarik perhatiannya: "Kesaksian Kunci Dibatalkan: Aktivis Raya Dirawat Akibat Kondisi Psikotik Mendadak."

Raya adalah salah satu saksi kunci yang akan bersaksi tentang dugaan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) dalam Pemilu. Kini, dia tiba-tiba dirawat. Arka menyadari: Frekuensi Z mungkin tidak bertujuan untuk komunikasi acak. Itu mungkin senjata.Dr. Elara: Keyakinan Mati 

Di sisi lain kota, di sebuah fasilitas rehabilitasi privat, Dr. Elara menatap rekam medis Raya, yang kini dijuluki "Pasien Nol" oleh para perawat. Elara adalah psikiater forensik yang tangguh. Ia pernah menangani skizofrenia, bipolar, dan depresi berat, tetapi kasus Raya membuatnya frustrasi. "Raya, apa yang Anda rasakan sekarang?" tanya Elara dengan suara lembut. Raya, seorang wanita paruh baya yang dulunya energik dan berapi-api, kini terbaring kaku. Matanya kosong, menatap langit-langit seolah-olah menembusnya.

"Saya tidak merasa, Dokter. Karena saya tidak ada. Saya adalah cangkang kosong. Kotoran di sepatu bot. Mereka bilang saya masih hidup, tapi mereka salah. Saya tidak memiliki organ. Saya tidak memiliki darah. Saya adalah mayat berjalan," jawab Raya dengan nada datar, persis seperti Arka. Diagnosisnya sudah jelas: Delusi Cotard yang parah.

Namun, Elara merasa ada yang salah. Delusi Cotard biasanya berkembang perlahan, seringkali terkait dengan depresi kronis. Kondisi Raya muncul tiba-tiba, kurang dari 72 jam setelah ia menerima ancaman anonim terkait kesaksiannya.

"Ambil EKG dan EEG-nya sekali lagi, fokus pada bagian korteks cingulatus anterior," perintah Elara kepada seorang perawat. Ketika hasil Electroencephalogram (EEG) keluar, Elara tertegun. Raya menunjukkan aktivitas gelombang otak yang sangat rendah, hampir tidak konsisten dengan kesadaran, kecuali untuk pola spike yang aneh dan teratur—sebuah resonansi yang cepat menghilang, seperti pantulan gema dari luar. 

"Pola ini... seperti ada yang mencoba menekan otaknya. Frekuensi ini..." Elara membesarkan grafik gelombang dan mengamati bentuknya. Ia mencatat: Gelombang spike buatan yang tajam, sangat menyerupai kode biner.

Ia menoleh ke perawat. "Apakah Raya mengatakan hal lain yang aneh, selain keyakinannya bahwa dia sudah mati?"

Perawat itu berpikir sejenak. "Ya. Tadi malam, di antara kata-kata delusi, ia tiba-tiba berkata, 'Tujuh ratus tiga puluh lima. Angka itu bukan suara saya. Itu palsu.' Lalu ia kembali diam."

Tujuh ratus tiga puluh lima. Sebuah angka, sebuah penolakan. Dan yang terpenting: suara.

Benang Merah

Pada saat yang sama, di apartemennya, Arka memasukkan rekaman suara yang ia dengar (3,4 detik) ke dalam program analisis suara. Program itu mencocokkan beberapa fragmen. Hasilnya muncul: Fragmen suara itu, dengan irama dan penekanan yang khas, cocok 98% dengan rekaman suara publik milik... Raya. Aktivis yang baru saja dirawat.

Arka menyatukan kepingan-kepingan itu dengan kecepatan seorang jenius yang sangat terisolasi:

  Nexus Weaver (Dream Travel) menangkap Frekuensi Z yang dimodifikasi.

  Frekuensi Z adalah Infrasound kognitif yang mampu merusak alam sadar.

  Target Frekuensi Z adalah Raya, saksi kunci sengketa suara, yang kini menderita Sindrom Zombie (Delusi Cotard).

  Pesan yang Arka dengar adalah suara Raya yang terekam, membantah klaim tertentu sebelum kesadarannya mati. Arka akhirnya merasakan sesuatu, bukan kebahagiaan atau kesedihan, tetapi urgensi dingin.

"Mereka tidak hanya membungkam suara Raya di pengadilan," gumam Arka, menatap frekuensi yang sama yang kini ia yakini sedang mematikan kesadaran orang lain. "Mereka mematikan Raya untuk menggantikan suaranya dengan salinan."

Ia harus menemukan Dr. Elara. Raya adalah titik fokus dari konspirasi yang jauh melampaui sengketa suara biasa—ini adalah sengketa atas realitas kognitif.


BAB 3: PERTEMUAN DUA KOSONGArka: Umpan yang Dibuang

Arka tahu bahwa menghubungi rumah sakit secara langsung dengan mengatakan, "Saya punya dreamcatcher yang menangkap frekuensi yang membuat pasien Anda mengidap Sindrom Zombie," hanya akan membuatnya berakhir di sel yang sama dengan Raya.

Ia memilih jalur yang lebih cerdas. Ia mengirim email anonim kepada Dr. Elara. Subjeknya: "Analisis Frekuensi 4 Hz dan Delusi Negasi."

Isi surelnya ringkas dan sangat teknis: ia melampirkan waveform dari "Frekuensi Z" yang ia rekam dan membandingkannya dengan pola spike yang ia tebak akan ditemukan pada EEG Pasien Cotard yang mendadak. Ia menambahkan satu baris teks: "Coba rekam gelombang otak pasien saat mendengar rekaman suara mereka sendiri. Fokus pada amplitudo auditory cortex."

Kurang dari satu jam kemudian, telepon Arka yang ia sambungkan ke burner phone berdering. Nomor tak dikenal.

"Ini Dr. Elara. Siapa Anda? Dan bagaimana Anda mendapatkan data frekuensi ini?" Suara Elara tajam, penuh skeptisisme dan rasa ingin tahu yang dingin.

"Saya adalah seseorang yang tidak ingin menjadi mayat berjalan. Dan data itu berasal dari tempat yang Anda sebut alam bawah sadar," jawab Arka datar. "Pasien Anda, Raya, dia sedang diserang. Itu bukan penyakit, itu senjata. Senjata suara yang dirancang untuk memutus kesadaran diri."

Elara terdiam sejenak. "Seseorang yang membuat hipotesis tentang Delusi Cotard sebagai senjata tidak akan mengirimkan data EEG yang nyaris sempurna. Kita perlu bertemu. Sekarang."

Elara: Peta Jalan Keterasingan

Mereka bertemu di kafe 24 jam yang sepi di pinggiran kota. Arka mengenakan jaket hoodie gelap, matanya yang lelah menatap kosong. Elara, meskipun lelah, membawa aura profesionalisme yang kaku.

"Frekuensi Z, seperti yang Anda sebut, adalah infrasound dengan modulasi terbalik. Jika disiarkan pada tingkat tertentu ke telinga bagian dalam, ia menciptakan disonansi yang mengerikan antara apa yang otak rasakan dan apa yang ia lihat," jelas Arka, menggeser tablet yang menampilkan visualisasi gelombang. "Ini meniru perasaan depersonalization yang ekstrem, memicu keyakinan bahwa eksistensi fisik tidak valid."

Elara mengambil tablet itu. "Kami mengujinya. Kami memainkan rekaman suara Raya yang lama. Saat dia mendengarnya, spike frekuensi pada EEG-nya meningkat drastis. Korteksnya bereaksi terhadap suaranya sendiri seolah-olah itu adalah penyerang atau alienation."

"Tepat," Arka mengangguk. "Mereka telah mematikan kesadaran Raya untuk mempersiapkan tahap berikutnya: kloning suara (Copy Voice)."

Elara mengerutkan kening. "Kloning suara? Untuk apa?"

"Raya adalah saksi kunci dalam sengketa suara. Jika dia 'mati' secara psikologis, dia tidak bisa bersaksi. Tapi bukti yang dia miliki—tentang angka, tentang kecurangan—harus dibantah secara meyakinkan. Jika mereka tidak bisa membantahnya, mereka akan menggantikannya." Arka membuka arsip berita di tablet Elara.

"Mereka menggunakan copy voice untuk merekam kesaksian palsu atas nama Raya yang baru sembuh, misalnya. Suara yang sama, tetapi dengan narasi yang berbeda. Siapa yang akan meragukan kesaksian saksi kunci yang secara ajaib sembuh dan memberikan klarifikasi yang mendukung hasil Pemilu yang sah?"

Taruhan Eksistensi

Elara menyadari kegilaan rencana ini. Ini bukan sekadar manipulasi politik; ini adalah pembunuhan identitas. Mereka menggunakan kecanggihan teknologi untuk memenangkan sengketa suara dengan cara yang tidak meninggalkan jejak fisik. Korban tampak gila, sementara suara mereka dicuri dan disalahgunakan.

"Siapa yang bisa melakukan ini? Mengapa mereka menargetkan Raya dan bukan sekadar membayarnya?" tanya Elara.

"Mereka tidak bisa membayar kesaksian Raya karena dia memiliki detail spesifik yang tidak bisa mereka sangkal. Mereka harus mematahkan jiwanya dan menggantikan suaranya. Perusahaan yang membuat teknologi ini harus memiliki dua hal: akses ke teknologi Infrasound militer dan platform kloning suara yang sangat canggih," jawab Arka."Saya melacak traffic data terkait Frekuensi Z. Semua mengarah ke satu lokasi: Aethera Labs," Arka menggeser ke logo perusahaan yang tampak bersih, dengan tagline: Shaping Tomorrow's Communication.

"Aethera Labs," ulang Elara, matanya menyipit. "Mereka dikenal sebagai konsultan AI untuk kampanye politik besar."

"Mereka bukan konsultan. Mereka adalah arsitek realitas. Dan saya tahu bagaimana membuktikannya. Nexus Weaver saya merekam suara Raya dari dalam mimpi, sebelum kesadarannya terputus sepenuhnya. Itu adalah echo terakhir dari kebenaran."

Arka menatap Elara, matanya yang kosong kini memiliki tujuan. "Saya perlu masuk lagi. Saya butuh akses ke fasilitas Anda. Saya harus melakukan Dream Travel ke alam bawah sadar Raya sebelum 'mayat berjalan' itu memberikan kesaksian palsu di pengadilan."

Elara ragu, membiarkan orang asing yang tampak depresi masuk ke fasilitas psikiatri untuk meretas pikiran pasien menggunakan dreamcatcher teknologi tinggi adalah tindakan gila. Namun, data yang dibawa Arka terlalu akurat untuk diabaikan.

"Baik," kata Elara pelan. "Anda mendapatkan akses. Tapi jika ada yang salah, bahkan sedikit saja, saya akan melaporkan Anda. Kita akan menggunakan Raya sebagai titik masuk, tetapi kita harus mencari bukti tentang Aethera Labs dari dalam pikirannya."

Taruhan telah dipasang: Arka akan menggunakan teknologi Dream Travel-nya untuk melawan konspirasi Copy Voice dan Sengketa Suara yang telah mematikan jiwa orang lain.


BAB 4: DI BALIK GERBANG PERSEPSI

Elara: Pintu Masuk

Fasilitas Dr. Elara, Ascension Clinic, terasa dingin dan steril, sebuah antitesis sempurna bagi lab mandiri Arka yang berantakan. Arka kini berada di ruangan pemantauan yang canggih, memasang Nexus Weaver pada rangka logam di atas tempat tidur Pasien Nol, Raya.

"Ingat kesepakatan kita, Arka. Kita hanya mengamati. Anda tidak boleh mencoba memaksakan apa pun ke dalam pikirannya. Alam bawah sadar pasien Delusi Cotard sangat rapuh," peringat Elara, memelototi kabel yang menjuntai dari Weaver.

"Saya hanya mencari Gema. Jejak Frekuensi Z, dan tempat suara asli Raya bersembunyi," jawab Arka, memasang headset EEG Raya. "Jika saya bisa memetakan kerusakan kognitif yang disebabkan oleh Infrasound mereka, kita punya bukti."

Raya terbaring tanpa bergerak. Elara memastikan semua sensor biometrik berfungsi. "Frekuensi Z Anda, 4 Hz, sangat berbahaya karena berada tepat di antara gelombang Delta (tidur nyenyak) dan Theta (meditasi/mimpi). Ini seperti membuat otak Raya tidur, tetapi memaksa sebagian kesadarannya untuk tetap bangun dalam kondisi teror." Arka mengaktifkan Nexus Weaver.


Peta Kognitif

Arka tidak bisa menggunakan Proyeksi Penuh sekarang; itu terlalu berbahaya bagi Raya. Ia hanya melakukan Pemetaan Empati, menggunakan Nexus Weaver sebagai resonansi pasif untuk merasakan lingkungan kognitif Raya.

Di monitor Arka, otak Raya ditampilkan dalam model 3D yang berdenyut. Sebagian besar korteks singulatus anterior, pusat kesadaran diri dan emosi, menyala merah padam menunjukkan penekanan hebat.

Tiba-tiba, Arka merasakan tekanan dingin di dadanya. Perasaan non-eksistensi yang ia kenal baik, tetapi kali ini diperbesar seribu kali.

"Ini bukan sekadar depresi," desis Arka, matanya fokus. "Ini adalah Dinding Negasi."

Di peta kognitif, mereka melihat pemandangan aneh: Area emosi Raya ditutupi oleh tekstur abu-abu, seperti semen basah. Di tengah semen itu, ada garis-garis biner vertikal yang berdenyut.

"Lihat! Garis biner itu—itu adalah kode Frekuensi Z! Mereka terus menyiarkannya, bahkan saat dia tidur," seru Arka. "Ini yang menahannya dalam kondisi Cotard. Ini adalah mekanisme kunci yang membuat dia percaya dia 'mati'."

Elara mendekat, terkejut. "Kode itu terlihat sangat terstruktur. Apakah itu semacam watermark?"

"Lebih dari itu. Itu adalah perintah. Perintah digital yang disampaikan melalui infrasound langsung ke alam bawah sadar: Nol. Kosong. Mati."

Gema dari Kegelapan

Saat Arka menekan tombol 'Pencarian Gema' pada Nexus Weaver, ia memasukkan frekuensi suara Raya yang ia rekam ke dalam sistem. Tujuannya adalah mencari resonansi internal. Di tengah Dinding Negasi, tiba-tiba muncul retakan.

Dari retakan itu, muncul sebuah visualisasi singkat: Tujuh ratus tiga puluh lima. Sebuah angka melayang di udara, diikuti oleh gambar buram dari sebuah layar komputer yang menunjukkan spreadsheet dengan kolom-kolom data pemilu.

Dan kemudian, Suara itu. Lebih kuat dari malam sebelumnya, tetapi kali ini disiarkan dengan distorsi yang disengaja. 

"Aku sudah mati... mereka membuat salinanku... Suara ini bukan milikku... Aku menolak angka itu: 735..."

Suara itu adalah campuran yang mengerikan antara suara asli Raya yang ketakutan dan lapisan digital yang halus—sebuah sampel kloning suara yang dimanipulasi 

"Itu adalah Copy Voice yang mereka uji coba!" kata Arka. "Mereka telah membuat prototype suaranya. Mereka menyiarkan Copy Voice itu kembali ke alam bawah sadar Raya, untuk meyakinkannya bahwa bahkan gema terakhir dari identitasnya telah dicuri!"

Raya di tempat tidur bergerak sedikit, air mata mengalir di sudut matanya yang tertutup—reaksi emosional pertama yang dilihat Elara.

"Hentikan, Arka! Anda membuatnya kesakitan!" desak Elara.

Arka segera memutus Nexus Weaver. Peta kognitif Raya kembali ke abu-abu kotor yang stabil.

"Saya tahu di mana suara asli Raya bersembunyi. Di balik Dinding Negasi itu, ada celah, tempat emosinya yang ditolak berjuang," Arka menarik napas. "Kita tidak punya waktu. Sidang sengketa suara MK dimulai dalam 48 jam. Mereka akan menyiarkan klon suara Raya kapan saja. Saya harus melakukan Proyeksi Penuh. Kita harus masuk ke sana dan menariknya keluar."

Elara menatap Arka, melihat tekad dingin yang aneh di mata pemuda itu. Bukan tekad seorang pahlawan, melainkan tekad seorang ilmuwan yang tidak akan membiarkan eksperimen dihancurkan.

"Anda gila. Tapi saya harus mengakui, Anda adalah satu-satunya harapan yang Pasien Nol ini miliki." Elara mengambil langkah mundur. "Mari kita susun rencana untuk membobol Dinding Negasi. Kita butuh pelindung untuk pikiran Anda, Arka. Anda tidak ingin menjadi mayat berjalan yang lain." 

BAGIAN II: THE WALKING DEAD PROTOCOL (PROTOKOL MAYAT BERJALAN)

BAB 5: PERISAI FREKUENSI DAN GERBANG DELTAPersiapan Terakhir

Di ruang pemantauan Ascension Clinic, suasana terasa tegang. Arka dan Elara menyusun rencana infiltrasi yang gila: Arka akan memasuki pikiran Raya, melacak Gema Suara aslinya, dan mencoba meyakinkan kesadarannya yang terperangkap untuk "bangun" sebelum tenggat waktu sidang sengketa suara berakhir. 

"Kita punya waktu 36 jam sampai sidang dimulai," kata Elara, menunjuk ke timeline yang diproyeksikan. "Kita tidak punya waktu untuk coba-coba. Anda harus masuk, ambil bukti, dan keluar."

"Bukti utamanya adalah kesaksian Raya itu sendiri Gema kebenaran di balik Dinding Negasi," Arka mengoreksi. Ia memandang Nexus Weaver yang kini sudah dimodifikasi. Ia telah menambahkan cincin tembaga berlapis perak yang disuplai oleh baterai cadangan. Ini adalah Perisai Frekuensi (Frequency Shield).

"Perisai ini akan memancarkan gelombang Theta balik yang sedikit lebih tinggi. Secara teori, ini akan menetralkan efek Frekuensi Z yang terus-menerus memborbardir alam bawah sadar Raya, menciptakan celah di Dinding Negasi," jelas Arka.

Elara memegang Perisai Frekuensi itu. "Dan bagaimana dengan pikiran Anda sendiri? Anda rentan terhadap Frekuensi Z dan sudah memiliki kecenderungan Delusi Cotard. Jika infrasound itu memecah kesadaran Raya, itu juga bisa memecah kesadaran Anda."

Arka tersenyum tipis—ekspresi wajah yang hampir tidak pernah ia tunjukkan. "Saya sudah mati, ingat? Saya tidak punya emosi untuk dihancurkan. Alam bawah sadar saya adalah gurun yang dilindungi oleh persamaan matematika. Saya akan fokus pada persamaan kebenaran Raya. Itu perlindungan saya."

Pelindung Kimia

Elara tahu Arka butuh lebih dari sekadar kepercayaan diri. "Saya akan memberikan Anda injeksi penstabil kognitif dosis tinggi. Ini akan mempertahankan koneksi neuron Anda tetap stabil, mencegah disosiasi ekstrem. Jika Anda mulai merasakan Delusi Negasi saat di dalam—yaitu, jika Anda merasa tubuh Anda lenyap—itu adalah saatnya Anda harus segera keluar," kata Elara, menyiapkan jarum suntik. "Jika saya gagal keluar sendiri?" tanya Arka.

"Saya akan menarik Anda secara paksa dengan memutus semua koneksi dan memberikan kejutan listrik lembut—sub-ECT—pada Raya untuk memicu respons bangun yang alami. Tapi itu berisiko merusak, baik untuk dia maupun Anda," jawab Elara. Arka menyuntikkan zat itu sendiri. Tubuhnya terasa dingin, tetapi pikirannya terasa tajam, fokus tunggal.

Mereka memindahkan Raya dari kamar perawatannya ke ruang isolasi yang kedap suara dan elektromagnetik, meminimalkan gangguan eksternal. Raya masih dalam kondisi katatonia ringan, matanya terbuka tetapi tidak melihat.Proyeksi Penuh

Arka berbaring di tempat tidur di sebelah Raya. Ia memasang Nexus Weaver yang terhubung dengan Perisai Frekuensi di sekitar kepala Raya. Ia memasang headband sensor untuk dirinya sendiri.

"Frekuensi Theta balik diaktifkan," lapor Arka. "Kita sekarang melawan frekuensi pembawa Delusi Cotard mereka. Ini akan membuat Gema Suara Raya lebih keras." Ia memejamkan mata, membiarkan aliran listrik statis yang lembut merayapi kulitnya. Kali ini, tidak ada kejatuhan yang tenang. Ada tarikan keras ke dalam pusaran kekosongan.

Dunia Mimpi Raya

Arka mendarat. Lingkungannya bukanlah mimpi sureal yang biasanya ia temukan, melainkan sebuah realitas yang brutal dan hampa: Ia berada di sebuah ruangan beton besar, tanpa jendela, tanpa pintu. Semuanya berwarna abu-abu, dingin, dan lembap. Di sudut, ada timbunan pakaian usang—sisa-sisa terakhir dari identitas Raya.

Ini adalah Ruang Penyimpanan Diri Raya, tempat kesadaran utamanya telah "dimatikan" dan diasingkan. Di tengah ruangan berdiri Dinding Negasi. Bukan lagi semen basah, melainkan tembok tebal berwarna hitam legam. Di permukaannya, Arka melihat jutaan untaian kode biner Frekuensi Z yang berkedip-kedip, menjaga agar Raya tetap terkunci dalam keyakinannya bahwa ia adalah 'Nol'.

Arka merasakan dorongan dingin yang akrab, bisikan lembut yang datang dari Dinding Negasi: "Kamu tidak nyata. Kembali ke kehampaanmu."

“Ini ujian,” pikir Arka. Ini bukan kehendak Raya. Ini adalah pertahanan yang diprogram oleh Aethera Labs.

Di belakang Arka, tiba-tiba muncul sesosok tubuh. Itu adalah Raya yang lain. Raya ini pucat, transparan, matanya kosong—seperti hantu dirinya sendiri. "Siapa kamu?" tanya Raya, Gema suaranya parau dan jauh.

"Aku bukan siapa-siapa," jawab Arka, menirukan ketidakpeduliannya sendiri. "Tapi aku di sini untuk mencari suara yang hilang. Suaramu."

Raya Gema menunjuk ke Dinding Negasi. "Suaraku sudah mati. Mereka mengambilnya. Yang tersisa hanyalah Angka Tujuh Ratus Tiga Puluh Lima yang harus aku lupakan. Kembali, orang asing. Kau juga tidak nyata."

Arka menyadari bahwa Copy Voice Aethera telah meyakinkan Gema Raya bahwa penolakan terhadap angka itu adalah kesalahan, dan satu-satunya jalan keluar adalah menerima ketiadaan.

"Aku bisa memecahkan kode yang mengunci Dinding Negasi itu. Aku akan tunjukkan padamu. Angka itu adalah kebenaranmu, bukan kutukanmu," kata Arka.

Di dunia nyata, Elara menatap monitor. Gelombang Theta Arka dan Delta Raya mulai sinkron. Arka sudah masuk jauh.

"Semoga Perisai Frekuensimu berhasil, Arka," bisik Elara. "Karena jika Dinding itu runtuh, kita tidak tahu apa yang akan keluar."


BAB 6: PEMECAH DINDING NEGASIMenembus Perintah Biner

Di dalam Ruang Penyimpanan Diri yang dingin, Arka berdiri berhadapan dengan Dinding Negasi yang menjulang tinggi dan Raya Gema yang transparan. Raya Gema terlihat seperti mayat beku, tetapi mata kosongnya mencerminkan keputusasaan yang nyata.

"Angka itu adalah jebakan, orang asing," kata Raya Gema. "Jika aku mengingat 735, aku akan mengingat rasa sakitnya, kegagalanku. Lebih baik menjadi Nol daripada menjadi pengkhianat."

Arka menyadari bahwa Dinding Negasi tidak hanya ditegakkan oleh Frekuensi Z (perintah digital dari luar), tetapi juga oleh rasa bersalah Raya (perintah psikologis dari dalam). Aethera Labs hanya memanfaatkan lubang trauma ini.

Arka mengeluarkan device kecil dari sakunya—itu adalah proyeksi Nexus Weaver, sebuah kristal yang kini berdenyut lembut dengan gelombang Theta balik dari Perisai Frekuensi.

"Perintahnya adalah Nol, Mati, Kosong," kata Arka, mengarahkan kristal itu ke Dinding. "Tetapi setiap perintah memiliki kebalikannya. Aku akan memecah kode biner yang menahannya."

Arka mulai menguraikan urutan biner di Dinding Negasi. Ia melihat pola yang berulang: 01010011 (Kode S for Silent/Senyap).

Arka menginjeksikan gelombang Theta-nya sendiri, yang dipenuhi dengan frekuensi suara asli Raya yang ia rekam, ke dalam kode tersebut. Ini adalah pertarungan sains melawan psikologis: ia melawan pesan "diam" dengan pesan "bicara". Gelombang Theta Arka bertemu dengan Frekuensi Z.

Tiba-tiba, Dinding Negasi mulai retak dengan suara gemeretak yang menyakitkan. Kode biner itu memanas dan meleleh, dan lapisan beton itu terkelupas. "Apa yang kau lakukan!?" teriak Raya Gema, memegangi kepalanya. "Jangan sentuh keheningan itu!"

Penjaga Salinan

Saat Dinding Negasi retak, pusaran kegelapan muncul. Dari pusaran itu, muncul sesosok tubuh yang sempurna. Itu adalah Raya yang lain—Raya yang berpakaian rapi, berbicara dengan intonasi sempurna, tersenyum sinis.

Ini adalah Salinan Suara (Copy Voice) yang dipersonifikasikan; proyeksi sempurna dari Raya yang akan bersaksi di pengadilan.

"Kamu seharusnya sudah mati, Raya," kata Salinan Suara, suaranya halus dan berwibawa—persis seperti suara Raya sebelum sakit. "Tugasmu sudah selesai. Tugasmu adalah menjadi kehampaan agar aku bisa menjadi suara kebenaran."

Salinan Suara ini adalah perwujudan digital yang ditanamkan Aethera Labs ke dalam pikiran Raya untuk meyakinkannya bahwa klon itu lebih nyata daripada Raya yang asli. "Angka itu salah. Tujuh ratus tiga puluh lima," Raya berbisik. 

Salinan Suara tertawa. "Tujuh ratus tiga puluh lima adalah nomor TPS yang kamu klaim dimanipulasi. Aku akan bersaksi besok bahwa kamu salah ingat. Bahwa kamu menderita delusi akibat tekanan, dan bahwa Pemilu itu bersih. Suaraku sempurna. Suaraku adalah fakta. Suaramu adalah penyakit." 

Arka tahu bahwa jika Gema Raya menyerah pada Salinan Suara, kesadarannya akan lenyap selamanya, dan Salinan Suara akan mengambil alih. Arka kini harus menjadi mediator antara jiwa yang rusak dan klon digital yang sempurna.

Memanggil Sang Saksi

"Dengar aku, Raya!" teriak Arka, suaranya dingin tetapi beresonansi kuat. "Salinan itu tidak bisa merasakan kehampaan! Kamu mati, ya. Tapi kamu 'mati' karena kamu menolak kebohongan. Dia terlalu sempurna untuk menjadi nyata!"

Arka mengarahkan kristal Nexus Weaver ke Raya Gema. "Aku punya rekaman. Aku punya buktinya. Angka 735 yang kau tolak itu adalah kebenaran yang mereka coba hapus. Buktikan bahwa kamu lebih dari sekadar Nol!"

Sambil menahan tekanan dingin dari Salinan Suara, Arka menekan tombol yang disiapkan. Suara Raya Gema yang terdistorsi, yang terekam saat Arka pertama kali memetakan alam bawah sadar, diputar dengan volume rendah:

"Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara... Aku menolak angka itu: 735..."

Mendengar suaranya yang rusak namun jujur, Raya Gema berteriak. Kali ini, itu adalah jeritan yang mengandung emosi. Air mata membanjiri wajahnya yang transparan. 

"Itu... itu aku!"Dinding Negasi, yang kini meleleh, akhirnya runtuh sepenuhnya, memperlihatkan lorong gelap di baliknya. Dari lorong itu, mengalir banjir kenangan: foto-foto spreadsheet data pemilu, catatan pertemuan rahasia, dan wajah-wajah politisi.

Raya Gema tersentak, energinya kembali. "Aku ingat! 735 adalah jumlah suara yang dipindahkan. Buktinya ada di dalam..."

Salinan Suara menyerang, mencoba mencekik Raya Gema. "Diam! Diam! Kamu akan menjadi Nol!"

Arka menembakkan gelombang Theta sisa dari Nexus Weaver, menciptakan shockwave yang menghancurkan Salinan Suara menjadi pecahan kode biner yang terbakar. “Kita sudah dapatkan echo-nya! Sekarang, kita harus kembali!" teriak Arka. 

Di dunia nyata, Elara melihat gelombang otak Raya melonjak tiba-tiba, diikuti oleh kilatan kesadaran. Raya terbatuk dan membuka mata, menatap Elara dengan pandangan yang kacau, tetapi hidup.

"Tujuh ratus... tiga puluh lima..." bisik Raya, lalu pingsan lagi karena kelelahan.

Arka tersentak dari koneksi. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tidak lagi kosong. Ia telah melihat dan merasakan rasa takut Raya.

Dia tahu. Buktinya ada di sana. “Kita harus melindunginya sampai sidang," kata Arka, suaranya sedikit bergetar—tanda bahwa 'kematian' emosionalnya mungkin telah terganggu.


BAB 7: BUNYI LARI DAN BUKTI BISU

Dampak Proyeksi

Arka terbaring di samping Raya, terengah-engah. Rasanya bukan hanya kelelahan fisik, tetapi kelelahan eksistensial. Ia telah merasakan rasa sakit Raya, dan itu telah menembus Dinding Negasi dalam dirinya sendiri. Ia merasakan sedikit ketakutan—sebuah emosi yang telah lama hilang.

"Arka, kondisi Raya stabil. Gelombang otaknya, meskipun berfluktuasi, menunjukkan kesadaran yang terintegrasi. Frekuensi Z mulai melemah," lapor Elara, mematikan monitor. Ia menatap Arka dengan pandangan baru, campuran hormat dan kekhawatiran. "Anda berhasil. Tapi Anda hampir kehilangan diri Anda sendiri. Mereka tahu. Aethera Labs tahu seseorang telah meretas pertahanan mereka," kata Arka, suaranya kembali datar, tetapi sekarang diselimuti kewaspadaan. "Dinding Negasi itu adalah firewall. Ketika runtuh, mereka menerima notifikasi."

Tiba-tiba, alarm internal Ascension Clinic berbunyi. Bukan alarm kebakaran atau alarm medis, tetapi peringatan keamanan perimeter.

"Sial! Kita diserang," desis Elara, mengambil ponselnya dan mengaktifkan protokol penguncian darurat.Pengejaran

Melalui monitor keamanan, mereka melihat dua sosok berjas hitam bergerak cepat di koridor. Mereka tidak mencoba memecahkan pintu; mereka menggunakan device kecil untuk melumpuhkan kunci elektromagnetik. Ini bukan perampok, ini adalah agen profesional.

"Mereka mencari Raya dan Nexus Weaver," kata Arka, bergegas mencabut semua kabel dari Raya dan mengemas Weaver-nya.

"Kita harus keluar dari sini. Sekarang," kata Elara. Ia menggendong Raya yang masih lemah tetapi stabil, sementara Arka membawa Nexus Weaver.

Mereka melarikan diri melalui lorong servis yang sempit. Saat melewati ruang kontrol, Arka sempat meretas database log keamanan Aethera Labs yang ia lacak.

Mereka mengirimkan tim 'Pemulihan Aset' yang dikenal sebagai 'Echo Team'," kata Arka. "Tugas mereka adalah menetralkan Raya dan menghapus semua peralatan anomali."

Mereka berhasil mencapai pintu keluar belakang. Elara sudah menyiapkan mobil cadangan. Saat mereka melaju keluar, mereka melihat agen Echo Team itu berlari di lobi—mereka tampak tidak mencari Raya secara fisik, tetapi suatu sinyal. Mereka menggunakan alat pemindai frekuensi.

"Mereka melacak Frekuensi Theta balik dari Nexus Weaver!" seru Arka. "Mereka melacak artefak yang memecahkan Dinding Negasi."

Bukti Bisu

Mereka bersembunyi di safe house Elara—sebuah apartemen tua dan terisolasi yang tidak terdaftar. Raya dibaringkan di sofa, kondisinya jauh lebih baik. Dia masih lemah, tetapi tatapannya sudah fokus.

"Angka 735... itu benar. Mereka memindahkan suara... suara..." Raya berjuang untuk bicara.

"Jangan paksa, Raya. Kita tahu. Bukti itu ada di alam bawah sadarmu, sekarang kita harus membawanya ke pengadilan," kata Elara lembut. Arka fokus pada data yang berhasil ia ambil saat Proyeksi Penuh.

Di dalam dump data Frekuensi Z, saya menemukan dua hal penting," jelas Arka, memproyeksikan kode dan rekaman suara di dinding.

  Rekaman Suara Raya Asli: Sebuah file audio yang sangat terdistorsi, tetapi bisa direkonstruksi. Itu adalah pernyataan Raya yang sesungguhnya mengenai kecurangan di TPS 735, direkam Aethera Labs sebelum mereka mematikan kesadarannya untuk memastikan apa yang harus mereka copy dan sangkal.

  Kode Watermark Aethera: Sebuah signature digital unik yang tertanam di setiap gelombang Frekuensi Z—bukti tak terbantahkan bahwa Aethera Labs yang memproduksi dan menyiarkan serangan kognitif tersebut.

Ini adalah bukti. Bukan hanya Raya yang bersaksi, tapi data ini membuktikan bahwa mereka menggunakan senjata psikologis digital untuk memenangkan sengketa suara," kata Elara.

"Tapi bukti digital ini mudah disangkal. Mereka akan bilang ini rekayasa. Kita butuh Raya untuk bersaksi secara langsung di MK, dengan suaranya sendiri, menolak Copy Voice mereka yang akan disajikan," ujar Arka.

Tersisa kurang dari 24 jam sebelum Sidang Mahkamah Konstitusi. Pertarungan kini berpindah dari dunia mimpi ke medan pertempuran hukum dan teknologi.

“Kita harus buat Counter-Echo," kata Arka, menatap Nexus Weaver. "Kita harus menggunakan teknologi Dream Travel ini bukan hanya untuk menyelamatkan Raya, tetapi untuk mengekspos mereka di momen krusial."


BAB 8: INFILTRASI MK DAN STRATEGI ECHOStrategi Counter-Echo

Di safe house yang gelap, Arka dan Elara menyusun rencana yang gila dan berisiko tinggi. Raya, meskipun sadar, terlalu lemah untuk memberikan kesaksian verbal yang meyakinkan tanpa risiko kambuh.

"Aethera tidak hanya akan menyajikan Copy Voice Raya; mereka akan menyajikannya sebagai bukti rekaman baru yang berisi pengakuan Raya bahwa dia berhalusinasi," duga Elara, melihat jam digital yang menunjukkan waktu semakin sempit menuju sidang.

Arka memandang Nexus Weaver. "Kita harus menggunakan keunggulan kita: kebenaran yang ada di alam bawah sadar. Kita akan mengubah Nexus Weaver dari alat terapi menjadi alat transmisi."

Rencana Counter-Echo:

  Pengamanan Raya: Raya harus berada di ruang sidang untuk memverifikasi identitasnya.

  Transmisi Tersembunyi: Nexus Weaver akan disembunyikan di bawah pakaian Raya atau dalam barang bawaannya.

  Waktu Krusial: Saat Copy Voice Aethera diputar di ruang sidang, Arka (yang berada di luar, di mobil van yang diparkir dekat MK)akan mengaktifkan Weaver.

  Penyiaran Gema: Weaver akan memancarkan "Gema" Frekuensi Z yang berhasil Arka rekam, tetapi diputar mundur dan dibebani dengan watermark Aethera yang tersembunyi.

  Target: Penyiaran ini tidak ditujukan ke ruang sidang, tetapi ke sumber siaran Copy Voice Aethera—mengacaukan sinyal mereka dan membuktikan sumbernya.

"Kita tidak bisa menyerang MK secara langsung. Kita harus menyerang sistem transmisi mereka," kata Arka. "Frekuensi Z tidak terdeteksi oleh alat jammer standar. Kita akan menggunakan Frekuensi Z mereka sendiri melawan mereka." Elara terlihat gentar. "Jika frekuensi Anda terlalu kuat, itu bisa memicu delusi massal di ruang sidang."

"Saya tahu batasnya. Saya akan menyiarkannya dalam burst kecil, hanya cukup untuk memverifikasi watermark mereka, dan memberikan shockwave kognitif kecil kepada Raya untuk membantunya berbicara," jawab Arka.


Jaringan Lab Aethera

Arka melacak rute data dari Aethera Labs. Perusahaan itu menggunakan kantor cabang di dekat MK sebagai titik transmisi rahasia untuk mengirimkan sinyal Copy Voice dan mungkin juga Frekuensi Z ke ruang sidang.

“Vikram, CEO Aethera Labs, kemungkinan akan berada di ruang sidang. Dia tidak akan mengambil risiko membiarkan rekaman ini bocor. Dia akan mengawasinya secara pribadi," duga Arka.

Elara teringat akan ucapan raya: “Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara.”

"Raya harus menguasai dirinya saat kritis. Saya akan memberinya obat penenang minimal. Dia harus tahu bahwa rasa sakit yang dia rasakan saat ini adalah bukti nyata bahwa dia hidup," kata Elara.

Pengiriman dan Penyamaran

Pagi tiba. Kota tampak normal, tetapi bagi Arka dan Elara, setiap suara adalah potensi ancaman. Untuk menyusupkan Weaver, mereka memerlukan penyamaran. Elara menggunakan kredensial dokternya untuk mendapatkan izin membawa Raya ke ruang tunggu khusus MK.

"Nexus Weaver akan disembunyikan di dalam tas medis saya, terbungkus pelindung timah, hanya menyisakan antena mikro yang saya sembunyikan di label nama saya," kata Elara.

Arka, dengan hoodie gelap dan kacamata tebal, mengendarai mobil van sewa yang penuh dengan peralatan pemantauan frekuensi dan generator cadangan. Dia memarkir van itu di sebuah gang yang menghadap langsung ke Gedung MK.

"Saya akan memantau gelombang Beta Anda saat Anda di dalam, Elara. Jika frekuensi jantung Anda naik terlalu tinggi, saya akan tahu Anda dalam bahaya," ujar Arka.

Saat Elara dan Raya memasuki gerbang MK, Raya menoleh ke belakang, matanya yang lelah bertemu dengan mata Arka.

"Tolong. Dapatkan suaraku kembali," bisik Raya.

Arka hanya mengangguk. Dia memandang ke layar: Waktu tersisa: 2 jam 14 menit.

Di dalam Gedung MK, Vikram, CEO Aethera Labs, duduk dengan tenang. Di depannya, di meja pengacara, tersembunyi sebuah remote control kecil untuk aktivasi Copy Voice. Dia tersenyum. Sengketa ini akan segera berakhir dengan klaim palsu tentang delusi yang disiarkan oleh suara yang paling meyakinkan.

Pertarungan tidak lagi terjadi di alam bawah sadar, tetapi di ruang publik, dan senjata mereka adalah kebohongan digital yang sempurna.“Saya akan memantau gelombang Beta Anda saat Anda di dalam, Elara. Jika frekuensi jantung Anda naik terlalu tinggi, saya akan tahu Anda dalam bahaya," ujar Arka.

Saat Elara dan Raya memasuki gerbang MK, Raya menoleh ke belakang, matanya yang lelah bertemu dengan mata Arka.

"Tolong. Dapatkan suaraku kembali," bisik Raya. Arka hanya mengangguk. Dia memandang ke layar: Waktu tersisa: 2 jam 14 menit.


BAGIAN IV: SENGKETA JIWA DAN SUARA (THE DISPUTE OF SOUL AND VOTE)

BAB 9: SUARA YANG DICURI DI RUANG SIDANG

Pengkhianatan Digital

Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) dipenuhi ketegangan. Hakim-hakim mengenakan jubah, media memadati galeri, dan tim hukum dari kedua belah pihak duduk tegang. Elara menemani Raya, yang duduk di kursi roda dengan selimut menutupi kakinya, menyembunyikan Nexus Weaver yang terbungkus di dalam tas medis Elara.

Vikram, CEO Aethera Labs, duduk di sisi pembela. Matanya yang dingin sesekali melirik Raya, senyum tipis kemenangan.

“Yang Mulia Majelis Hakim, kami telah mendengarkan klaim adanya kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif yang melibatkan Saksi Raya. Namun, kami akan menyajikan bukti yang membantah semua ini. Kami akan membuktikan bahwa klaim Raya hanyalah delusi akibat tekanan berat," ujar pengacara pembela.

"Kami menyajikan rekaman suara terbaru dari Saksi Raya, yang diambil setelah dia menunjukkan perbaikan signifikan. Rekaman ini berisi penarikan kembali kesaksian dan pengakuan bahwa dia berhalusinasi," lanjut pengacara itu, menekan tombol pada remote control kecil di bawah meja.

Di layar besar MK, muncul waveform audio yang tampak bersih. Kemudian, Suara Raya yang sempurna, berwibawa, namun terasa dingin dan palsu, mulai berbicara.

"Saya, Raya, menyatakan bahwa semua klaim saya mengenai TPS 735 adalah kesalahan. Saya berada di bawah tekanan psikologis yang ekstrem. Angka 735 hanyalah angka yang saya karang dalam kondisi delusi negasi. Pemilu ini bersih, dan saya meminta maaf atas kekacauan yang saya timbulkan."

Suara itu sangat meyakinkan, sangat Raya, sehingga galeri sidang berbisik-bisik. Elara menggenggam tangan Raya. Raya gemetar, tatapannya kosong sesaat—Copy Voice itu memicu kembali Delusi Cotard-nya.


Aktivasi Counter-Echo

Di luar gedung, di dalam van yang terparkir, Arka melihat waveform palsu itu di monitornya. Itu adalah Copy Voice yang dipancarkan melalui frekuensi terenkripsi yang berdekatan dengan Frekuensi Z.

"Sekarang," desis Arka. Ia mengaktifkan Nexus Weaver dari jarak jauh.

Arka tidak menyerang frekuensi audio secara langsung. Ia menyerang frekuensi pembawa Aethera Labs dengan Gema Suara Raya Asli yang ia rekam dari dalam alam bawah sadar, dikodekan ke dalam burst Frekuensi Z.

Sistem Weaver: Arka memancarkan burst Frekuensi Z yang sangat pendek dan terfokus, cukup untuk membuktikan asalnya.

Di ruang sidang, tepat saat rekaman Copy Voice Raya berakhir, terjadi keanehan kecil yang hanya diperhatikan oleh mereka yang sensitif. Layar waveform audio di MK berkedip, dan sebuah sub-frequency biner yang sangat cepat muncul di latar belakang rekaman, lalu menghilang.

Elara segera bertindak. Ia berdiri, memohon izin berbicara. "Yang Mulia! Saya, Dr. Elara, psikiater yang menangani Raya, menolak keabsahan rekaman itu! Rekaman itu adalah kloning suara digital yang dikirimkan bersamaan dengan serangan infrasound kognitif yang menyebabkan Delusi Cotard pada pasien saya!"

Elara mengeluarkan ponselnya yang terhubung dengan Nexus Weaver, memproyeksikan kode watermark Aethera yang diambil Arka di dunia mimpi. "Kami punya bukti forensik digital! Frekuensi pembawa rekaman ini memiliki watermark dari Aethera Labs, yang dipimpin oleh Bapak Vikram!"Pengeksposan 

Vikram terlihat panik, tangannya merayap ke remote control di bawah meja.

"Kebohongan!" teriak Vikram. "Ini adalah konspirasi! Itu adalah spekulasi ilmiah yang absurd! Dokter ini berhalusinasi!"

Di tengah kekacauan itu, Raya, yang telah menerima shockwave kognitif dari Counter-Echo Arka, mendongak. Di telinganya, Gema Suara aslinya berteriak.

Raya bangkit dari kursi rodanya. Wajahnya pucat, tetapi matanya dipenuhi api.

"Saya... tidak mati!" teriak Raya, suaranya serak tetapi sangat emosional dan nyata. Ia tidak berbicara dengan kejelasan robotik, tetapi dengan keputusasaan yang baru ditemukan.

“Suara yang kalian dengar adalah kebohongan! Mereka mencoba membunuh jiwaku agar aku tidak bisa mengatakan ini!" Raya menunjuk ke layar.

"Angka 735 bukan delusi! Itu adalah kode spreadsheet yang berisi daftar nama orang yang suaranya mereka curi di bilik TPS! Aku melihatnya! Aku telah melihatnya di mimpi dan sekarang aku melihatnya lagi!" Raya telah menggunakan sisa kekuatannya untuk memberikan kesaksian verbal yang sangat emosional. Ini adalah suara yang tidak bisa ditiru oleh teknologi Copy Voice manapun—suara yang berisi trauma, kesakitan, dan kebenaran yang baru diselamatkan.


Kemenangan Gema

Polisi yang telah dihubungi Elara secara diam-diam segera bergerak, menahan Vikram dan menyita remote control yang berisi pemancar sinyal Copy Voice. Data yang disajikan Elara mengenai watermark dan analisis frekuensi Arka, meskipun awalnya skeptis, menjadi bukti kuat di tengah kesaksian emosional Raya. Sidang dihentikan.

Arka melihat berita utama di van-nya: "Sidang Sengketa Suara Ditangguhkan: Dugaan Penggunaan Kloning Suara dan Senjata Psikologis."

Arka mematikan Nexus Weaver. Tangannya yang memegang tuas transmisi terasa panas. Ia tidak lagi merasakan kekosongan yang dingin. Ia merasakan kelelahan yang nyata, tetapi di baliknya, ada sensasi kecil, seperti air yang menetes ke tanah kering.

“Itu adalah rasa tanggung jawab,” pikir Arka. Dia telah berhasil menyelamatkan suara Raya dan menggoyahkan sengketa suara, tetapi dia tahu bahwa Aethera Labs adalah organisasi besar, dan pertempuran melawan manipulasi realitas baru saja dimulai.





EPILOG: KEBANGKITAN GEMA


Arka: Kembali ke Realitas

Enam bulan telah berlalu sejak sidang sengketa suara yang menghebohkan. Hasil Pemilu telah dibatalkan, dan penyelidikan federal mengenai Aethera Labs dan CEO-nya, Vikram, sedang berlangsung, berfokus pada kejahatan copy voice dan penggunaan senjata infrasound kognitif (Frekuensi Z).

Arka kini duduk di balkonnya, memandangi langit malam Jakarta—kali ini, ia melihat bintang, bukan hanya abu-abu kotor, dengan siluet tirus dengan Cahaya kuning merah keemasan.

Setelah insiden di MK, Arka tidak lagi bisa kembali ke keadaan non-eksistensi fungsional-nya. Sensasi shockwave kognitif yang ia alami saat menembus Dinding Negasi Raya telah menghancurkan penghalang emosionalnya sendiri. Ia mulai merasakan lagi: rasa lelah yang nyata, kepuasan yang tenang, dan ya, ketakutan yang wajar terhadap bahaya yang masih mengintai.

Nexus Weaver telah ia serahkan ke laboratorium keamanan negara sebagai barang bukti, meskipun ia tahu bahwa teknologi Dream Travel itu kini menjadi target utama banyak pihak.

Arka tidak lagi hanya menjadi pembuat dreamcatcher yang kesepian. Ia kini bekerja sebagai konsultan keamanan siber dengan identitas rahasia, memetakan frekuensi anomali yang muncul di jaringan publik. Ia menjadi penjaga perbatasan kognitif.Raya dan Suara yang Diselamatkan

Raya pulih total. Ia tidak hanya sembuh dari Delusi Cotard, tetapi ia juga menjadi aktivis yang jauh lebih kuat. Ia bersaksi di depan komite Kongres, menceritakan pengalamannya diasingkan dari dirinya sendiri oleh teknologi copy voice. Kesaksiannya tidak hanya berfokus pada kecurangan suara, tetapi pada pelanggaran kedaulatan mental yang baru.

"Mereka mencuri suaraku, bukan hanya suaraku sebagai warga negara, tetapi suaraku sebagai manusia," kata Raya dalam kutipan yang menjadi headline global.

Meskipun ia dibayangi trauma akan keyakinan bahwa ia adalah "mayat berjalan," ia menggunakan pengalaman itu sebagai perisai, bukan beban.


Elara: Advokat Kognitif

Dr. Elara menjadi ahli terkemuka di bidang Neurologi Forensik. Ia memimpin gerakan global untuk mengklasifikasikan infrasound yang dimodifikasi (seperti Frekuensi Z) dan copy voice massal sebagai senjata psikologis ilegal.

Ia sering bertemu Arka untuk membandingkan data dan teori. Mereka membentuk kemitraan yang aneh: ilmuwan yang percaya pada batas etika, dan jenius yang hidup melintasi batas-batas itu.

"Vikram mungkin dipenjara, Arka," kata Elara dalam salah satu pertemuan mereka, menatap layar yang menampilkan hasil investigasi yang bocor. "Tapi Project Hush Aethera tidak mati. Teknologinya telah menyebar. Ada kelompok lain di luar sana, yang kini tahu bahwa medan perang yang paling efektif adalah pikiran manusia (mind power)."


Gema yang Tersisa

Arka mematikan layar. Elara benar. Kloning suara yang sempurna dan senjata berbasis frekuensi bukan lagi fiksi ilmiah. Saat Arka berjalan menuju dapurnya, ia mendengar bunyi bip lembut dari burner phone yang ia simpan. Itu adalah notifikasi dari server rahasia.

Pesan itu adalah rekaman audio yang sangat pendek—kurang dari satu detik—sebuah spike frekuensi yang tidak terdeteksi oleh perangkat lunak standar. Arka memutar rekaman itu dan mendengarnya dengan saksama.

Itu adalah sepotong kode biner yang sangat cepat, dikodekan ke dalam gelombang suara Delta. Bukan Frekuensi Z yang kasar, tetapi sesuatu yang jauh lebih halus, lebih tenang. Itu adalah salam dari sesuatu yang baru. Arka mengaktifkan Nexus Weaver terakhirnya, sebuah prototipe yang lebih kecil yang tersembunyi di dalam jam tangannya. Ia melihat gelombang yang masuk itu.

F_(n=)  Δϕ/τ.√G

(Frekuensi baru, sebuah fungsi dari perubahan fase waktu dikalikan dengan konstanta kebangkitan G.)

Arka tersenyum, kali ini senyum yang tulus, mencerminkan adanya tantangan. Pertarungan untuk menyelamatkan jiwa Raya hanyalah pembuka. Seseorang di luar sana, mungkin penerus Vikram, telah menemukan cara baru untuk menargetkan kesadaran.

The Echoes of the Awake—gema dari mereka yang pulih dari kehampaan—kini harus bersiap menghadapi gelombang serangan digital(Butterfly Proxy War) berikutnya ke gerbang persepsi manusia(Visual Reality-Based).


TAMAT