Aspirasi dari hati yang terkecil

Sabtu, 29 November 2025

Gema Mereka Yang Bangun

BAGIAN I: THE QUIET WEAVER (Penunang Senyap)

BAB 1: JARING ARKA


Langit Jakarta selalu memiliki warna yang sama setelah pukul dua pagi: Abu-abu kotor yang diwarnai oleh neon lelah dari papan reklame yang mati-mati segan. Arka tidak pernah melihatnya. Ia selalu menatap ke bawah, ke sepotong kayu bundar dan untaian kawat tembaga ultra-halus di meja kerjanya.

Ia sudah mati. Tentu saja, ia masih bernapas, jantungnya berdetak, dan tagihan listriknya masih datang. Tetapi esensinya, emosinya, telah hilang. Hanya ada kekosongan yang dingin, selimut putih tebal yang mematikan segala rasa. Depresi klinis. Namun, Arka lebih suka menyebutnya kondisi non-eksistensi fungsional. 

Di tangannya, ia memegang masterpiece-nya: Nexus Weaver. Ini adalah Dreamcatcher versi 2.0. Bukan serat alami dan bulu ayam, melainkan cincin aluminium yang ditenun dengan kawat tembaga berdiameter mikrometer, membentuk matriks Faraday yang presisi. Di pusat jaring terdapat sebuah kristal kecil, penangkap dan pemancar gelombang otak. Tujuan Nexus Weaver bukan lagi menangkal mimpi buruk, melainkan mencari, memetakan, dan melakukan "Dream Travel" terkontrol.

"Waktunya, Arka. Jika emosi itu hilang, berarti ia ada di suatu tempat. Aku akan menariknya kembali," gumam Arka. Suaranya datar, tanpa intonasi.

Proyeksi

Malam itu, tujuannya adalah Koneksi Diri Tingkat Omega. Ini berarti mendorong batas frekuensi Delta, memasuki alam bawah sadar yang paling dalam, tempat kenangan dan trauma tersembunyi. Arka menyalakan alat-alatnya: osiloskop yang berkedip, monitor pemetaan otak 3D yang menampilkan gelombang otak Lambda-nya yang tenang. Ia mengenakan headband sensor, meletakkan Nexus Weaver tepat di atas kepalanya (menggantungnya di atas tempat tidur terasa terlalu klise), lalu menelan pil penenang dosis rendah.


Ia memejamkan mata. Listrik statis kecil mendesis dari jaring Nexus Weaver.

V_t=(L_0.B)/(Z_e+X_c )

(Vt adalah vektor transfer energi mimpi; L0 adalah frekuensi Lambda Arka; B adalah batas Beta eksternal; Ze adalah resistansi jaring. Arka selalu memikirkan mimpinya dalam persamaan.)

Dia jatuh. Bukan jatuh bebas, melainkan tenggelam yang tenang. Warna-warna mati di sekelilingnya memudar menjadi hitam pekat. Dia memasuki ruang bawah sadarnya, Sunyi, Dingin, Ruang hampa yang ia kenali dengan baik. Tiba-tiba, osiloskop berteriak di dunia nyata. Gelombang Lambda-nya yang stabil terputus.

Sinyal Asing

Di tengah kegelapan bawah sadarnya, Arka merasakan sesuatu. Itu bukan bagian dari dirinya. Itu Adalah sebuah Gema. Gema itu adalah frekuensi asing yang kuat, seperti short circuit yang terjadi pada koneksi Wi-Fi yang seharusnya pribadi. Arka mencoba menarik diri, tetapi Nexus Weaver sudah terkunci pada sinyal tersebut.Gema itu berubah menjadi Suara. Bukan suara dalam, bukan bisikan hati. Ini adalah rekaman suara yang jernih, seperti seseorang sedang berbicara ke mikrofon.

"Tujuh ratus tiga puluh lima. Bukan itu. Angka itu salah. Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara. Aku sudah mati, tapi mereka—"

Suara itu tercekat, diikuti oleh desah putus asa, bukan dari rasa sakit fisik, tetapi dari keterasingan eksistensial yang mengerikan. Ada keakraban yang aneh dalam keputusasaan itu.

Arka tersentak. Delusi  Cotard-nya sendiri—keyakinannya bahwa dia kosong dan mati—terdengar seperti gaung dari suara asing ini. Tapi, suara ini berasal dari luar.

Pertanyaan menggantung:

  Siapa yang berbicara?

  Mengapa suara itu terdengar begitu jelas di alam bawah sadarnya, melangkahi batas-batas privasi kognitif?

  Apa maksud dari "Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara"?

Arka memutus koneksi dengan paksa. Ia terlempar kembali ke kamarnya, berkeringat dingin untuk pertama kalinya dalam setahun. Matanya terpaku pada monitor osiloskop. Garis gelombang aneh, bukan Beta atau Gamma, tetapi sesuatu yang Arka sebut "Frekuensi Z", telah terekam selama 3,4 detik.

Frekuensi itu jelas merupakan produk buatan manusia, dirancang untuk memasuki dan mengganggu alam bawah sadar, namun dilepaskan secara liar.

Arka tidak lagi mencari emosinya yang hilang. Ia telah menemukan sesuatu yang lebih besar, dan jauh lebih berbahaya. Sesuatu, Bukti bahwa seseorang telah menemukan cara untuk meretas kesadaran manusia(Space Considering Back-door).


BAB 2: FREKUENSI Z DAN PASIEN NOL

Arka: Mencari Sumber

Tangan Arka gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena kejanggalan. Ia tidak merasakan ketakutan—lagi pula, ia sudah "mati" secara emosional—tetapi ia merasakan keganjilan. Itu lebih buruk daripada rasa takut.

Ia menghabiskan sisa malam itu mencoba menganalisis "Frekuensi Z" yang terekam oleh Nexus Weaver. Itu adalah gelombang pembawa yang sangat rendah (sekitar 4 Hz, mendekati batas Delta), tetapi dikodekan dengan spike sub-vokal yang terstruktur.

"Ini bukan gelombang alami. Ini Infrasound yang dimodifikasi untuk resonansi kognitif," bisik Arka, membaca hasil spektrumnya.

Arka menyadari bahwa frekuensi itu, jika disiarkan dengan intensitas yang tepat, dapat memanipulasi alam bawah sadar. Dan yang terpenting: suara yang ia dengar, "Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara," terintegrasi sempurna dengan gelombang pembawa. Itu bukan noise acak. Itu adalah pesan yang disengaja.

Arka memutuskan untuk mencari sinyal itu di dunia nyata. Ia tahu frekuensi 4 Hz tidak mudah dilacak. Ia menggunakan database publik tentang izin transmisi radio dan gelombang elektromagnetik. Tidak ada yang cocok. Saat mencari secara online, ia melihat berita utama yang mendominasi semua feed-nya: "Sengketa Suara Nasional Diperkirakan Memanas, Sidang MK Pekan Depan."

Arka mengabaikannya—politik tidak pernah relevan dengan kekosongan emosionalnya—tetapi sebuah artikel kecil menarik perhatiannya: "Kesaksian Kunci Dibatalkan: Aktivis Raya Dirawat Akibat Kondisi Psikotik Mendadak."

Raya adalah salah satu saksi kunci yang akan bersaksi tentang dugaan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) dalam Pemilu. Kini, dia tiba-tiba dirawat. Arka menyadari: Frekuensi Z mungkin tidak bertujuan untuk komunikasi acak. Itu mungkin senjata.Dr. Elara: Keyakinan Mati 

Di sisi lain kota, di sebuah fasilitas rehabilitasi privat, Dr. Elara menatap rekam medis Raya, yang kini dijuluki "Pasien Nol" oleh para perawat. Elara adalah psikiater forensik yang tangguh. Ia pernah menangani skizofrenia, bipolar, dan depresi berat, tetapi kasus Raya membuatnya frustrasi. "Raya, apa yang Anda rasakan sekarang?" tanya Elara dengan suara lembut. Raya, seorang wanita paruh baya yang dulunya energik dan berapi-api, kini terbaring kaku. Matanya kosong, menatap langit-langit seolah-olah menembusnya.

"Saya tidak merasa, Dokter. Karena saya tidak ada. Saya adalah cangkang kosong. Kotoran di sepatu bot. Mereka bilang saya masih hidup, tapi mereka salah. Saya tidak memiliki organ. Saya tidak memiliki darah. Saya adalah mayat berjalan," jawab Raya dengan nada datar, persis seperti Arka. Diagnosisnya sudah jelas: Delusi Cotard yang parah.

Namun, Elara merasa ada yang salah. Delusi Cotard biasanya berkembang perlahan, seringkali terkait dengan depresi kronis. Kondisi Raya muncul tiba-tiba, kurang dari 72 jam setelah ia menerima ancaman anonim terkait kesaksiannya.

"Ambil EKG dan EEG-nya sekali lagi, fokus pada bagian korteks cingulatus anterior," perintah Elara kepada seorang perawat. Ketika hasil Electroencephalogram (EEG) keluar, Elara tertegun. Raya menunjukkan aktivitas gelombang otak yang sangat rendah, hampir tidak konsisten dengan kesadaran, kecuali untuk pola spike yang aneh dan teratur—sebuah resonansi yang cepat menghilang, seperti pantulan gema dari luar. 

"Pola ini... seperti ada yang mencoba menekan otaknya. Frekuensi ini..." Elara membesarkan grafik gelombang dan mengamati bentuknya. Ia mencatat: Gelombang spike buatan yang tajam, sangat menyerupai kode biner.

Ia menoleh ke perawat. "Apakah Raya mengatakan hal lain yang aneh, selain keyakinannya bahwa dia sudah mati?"

Perawat itu berpikir sejenak. "Ya. Tadi malam, di antara kata-kata delusi, ia tiba-tiba berkata, 'Tujuh ratus tiga puluh lima. Angka itu bukan suara saya. Itu palsu.' Lalu ia kembali diam."

Tujuh ratus tiga puluh lima. Sebuah angka, sebuah penolakan. Dan yang terpenting: suara.

Benang Merah

Pada saat yang sama, di apartemennya, Arka memasukkan rekaman suara yang ia dengar (3,4 detik) ke dalam program analisis suara. Program itu mencocokkan beberapa fragmen. Hasilnya muncul: Fragmen suara itu, dengan irama dan penekanan yang khas, cocok 98% dengan rekaman suara publik milik... Raya. Aktivis yang baru saja dirawat.

Arka menyatukan kepingan-kepingan itu dengan kecepatan seorang jenius yang sangat terisolasi:

  Nexus Weaver (Dream Travel) menangkap Frekuensi Z yang dimodifikasi.

  Frekuensi Z adalah Infrasound kognitif yang mampu merusak alam sadar.

  Target Frekuensi Z adalah Raya, saksi kunci sengketa suara, yang kini menderita Sindrom Zombie (Delusi Cotard).

  Pesan yang Arka dengar adalah suara Raya yang terekam, membantah klaim tertentu sebelum kesadarannya mati. Arka akhirnya merasakan sesuatu, bukan kebahagiaan atau kesedihan, tetapi urgensi dingin.

"Mereka tidak hanya membungkam suara Raya di pengadilan," gumam Arka, menatap frekuensi yang sama yang kini ia yakini sedang mematikan kesadaran orang lain. "Mereka mematikan Raya untuk menggantikan suaranya dengan salinan."

Ia harus menemukan Dr. Elara. Raya adalah titik fokus dari konspirasi yang jauh melampaui sengketa suara biasa—ini adalah sengketa atas realitas kognitif.


BAB 3: PERTEMUAN DUA KOSONGArka: Umpan yang Dibuang

Arka tahu bahwa menghubungi rumah sakit secara langsung dengan mengatakan, "Saya punya dreamcatcher yang menangkap frekuensi yang membuat pasien Anda mengidap Sindrom Zombie," hanya akan membuatnya berakhir di sel yang sama dengan Raya.

Ia memilih jalur yang lebih cerdas. Ia mengirim email anonim kepada Dr. Elara. Subjeknya: "Analisis Frekuensi 4 Hz dan Delusi Negasi."

Isi surelnya ringkas dan sangat teknis: ia melampirkan waveform dari "Frekuensi Z" yang ia rekam dan membandingkannya dengan pola spike yang ia tebak akan ditemukan pada EEG Pasien Cotard yang mendadak. Ia menambahkan satu baris teks: "Coba rekam gelombang otak pasien saat mendengar rekaman suara mereka sendiri. Fokus pada amplitudo auditory cortex."

Kurang dari satu jam kemudian, telepon Arka yang ia sambungkan ke burner phone berdering. Nomor tak dikenal.

"Ini Dr. Elara. Siapa Anda? Dan bagaimana Anda mendapatkan data frekuensi ini?" Suara Elara tajam, penuh skeptisisme dan rasa ingin tahu yang dingin.

"Saya adalah seseorang yang tidak ingin menjadi mayat berjalan. Dan data itu berasal dari tempat yang Anda sebut alam bawah sadar," jawab Arka datar. "Pasien Anda, Raya, dia sedang diserang. Itu bukan penyakit, itu senjata. Senjata suara yang dirancang untuk memutus kesadaran diri."

Elara terdiam sejenak. "Seseorang yang membuat hipotesis tentang Delusi Cotard sebagai senjata tidak akan mengirimkan data EEG yang nyaris sempurna. Kita perlu bertemu. Sekarang."

Elara: Peta Jalan Keterasingan

Mereka bertemu di kafe 24 jam yang sepi di pinggiran kota. Arka mengenakan jaket hoodie gelap, matanya yang lelah menatap kosong. Elara, meskipun lelah, membawa aura profesionalisme yang kaku.

"Frekuensi Z, seperti yang Anda sebut, adalah infrasound dengan modulasi terbalik. Jika disiarkan pada tingkat tertentu ke telinga bagian dalam, ia menciptakan disonansi yang mengerikan antara apa yang otak rasakan dan apa yang ia lihat," jelas Arka, menggeser tablet yang menampilkan visualisasi gelombang. "Ini meniru perasaan depersonalization yang ekstrem, memicu keyakinan bahwa eksistensi fisik tidak valid."

Elara mengambil tablet itu. "Kami mengujinya. Kami memainkan rekaman suara Raya yang lama. Saat dia mendengarnya, spike frekuensi pada EEG-nya meningkat drastis. Korteksnya bereaksi terhadap suaranya sendiri seolah-olah itu adalah penyerang atau alienation."

"Tepat," Arka mengangguk. "Mereka telah mematikan kesadaran Raya untuk mempersiapkan tahap berikutnya: kloning suara (Copy Voice)."

Elara mengerutkan kening. "Kloning suara? Untuk apa?"

"Raya adalah saksi kunci dalam sengketa suara. Jika dia 'mati' secara psikologis, dia tidak bisa bersaksi. Tapi bukti yang dia miliki—tentang angka, tentang kecurangan—harus dibantah secara meyakinkan. Jika mereka tidak bisa membantahnya, mereka akan menggantikannya." Arka membuka arsip berita di tablet Elara.

"Mereka menggunakan copy voice untuk merekam kesaksian palsu atas nama Raya yang baru sembuh, misalnya. Suara yang sama, tetapi dengan narasi yang berbeda. Siapa yang akan meragukan kesaksian saksi kunci yang secara ajaib sembuh dan memberikan klarifikasi yang mendukung hasil Pemilu yang sah?"

Taruhan Eksistensi

Elara menyadari kegilaan rencana ini. Ini bukan sekadar manipulasi politik; ini adalah pembunuhan identitas. Mereka menggunakan kecanggihan teknologi untuk memenangkan sengketa suara dengan cara yang tidak meninggalkan jejak fisik. Korban tampak gila, sementara suara mereka dicuri dan disalahgunakan.

"Siapa yang bisa melakukan ini? Mengapa mereka menargetkan Raya dan bukan sekadar membayarnya?" tanya Elara.

"Mereka tidak bisa membayar kesaksian Raya karena dia memiliki detail spesifik yang tidak bisa mereka sangkal. Mereka harus mematahkan jiwanya dan menggantikan suaranya. Perusahaan yang membuat teknologi ini harus memiliki dua hal: akses ke teknologi Infrasound militer dan platform kloning suara yang sangat canggih," jawab Arka."Saya melacak traffic data terkait Frekuensi Z. Semua mengarah ke satu lokasi: Aethera Labs," Arka menggeser ke logo perusahaan yang tampak bersih, dengan tagline: Shaping Tomorrow's Communication.

"Aethera Labs," ulang Elara, matanya menyipit. "Mereka dikenal sebagai konsultan AI untuk kampanye politik besar."

"Mereka bukan konsultan. Mereka adalah arsitek realitas. Dan saya tahu bagaimana membuktikannya. Nexus Weaver saya merekam suara Raya dari dalam mimpi, sebelum kesadarannya terputus sepenuhnya. Itu adalah echo terakhir dari kebenaran."

Arka menatap Elara, matanya yang kosong kini memiliki tujuan. "Saya perlu masuk lagi. Saya butuh akses ke fasilitas Anda. Saya harus melakukan Dream Travel ke alam bawah sadar Raya sebelum 'mayat berjalan' itu memberikan kesaksian palsu di pengadilan."

Elara ragu, membiarkan orang asing yang tampak depresi masuk ke fasilitas psikiatri untuk meretas pikiran pasien menggunakan dreamcatcher teknologi tinggi adalah tindakan gila. Namun, data yang dibawa Arka terlalu akurat untuk diabaikan.

"Baik," kata Elara pelan. "Anda mendapatkan akses. Tapi jika ada yang salah, bahkan sedikit saja, saya akan melaporkan Anda. Kita akan menggunakan Raya sebagai titik masuk, tetapi kita harus mencari bukti tentang Aethera Labs dari dalam pikirannya."

Taruhan telah dipasang: Arka akan menggunakan teknologi Dream Travel-nya untuk melawan konspirasi Copy Voice dan Sengketa Suara yang telah mematikan jiwa orang lain.


BAB 4: DI BALIK GERBANG PERSEPSI

Elara: Pintu Masuk

Fasilitas Dr. Elara, Ascension Clinic, terasa dingin dan steril, sebuah antitesis sempurna bagi lab mandiri Arka yang berantakan. Arka kini berada di ruangan pemantauan yang canggih, memasang Nexus Weaver pada rangka logam di atas tempat tidur Pasien Nol, Raya.

"Ingat kesepakatan kita, Arka. Kita hanya mengamati. Anda tidak boleh mencoba memaksakan apa pun ke dalam pikirannya. Alam bawah sadar pasien Delusi Cotard sangat rapuh," peringat Elara, memelototi kabel yang menjuntai dari Weaver.

"Saya hanya mencari Gema. Jejak Frekuensi Z, dan tempat suara asli Raya bersembunyi," jawab Arka, memasang headset EEG Raya. "Jika saya bisa memetakan kerusakan kognitif yang disebabkan oleh Infrasound mereka, kita punya bukti."

Raya terbaring tanpa bergerak. Elara memastikan semua sensor biometrik berfungsi. "Frekuensi Z Anda, 4 Hz, sangat berbahaya karena berada tepat di antara gelombang Delta (tidur nyenyak) dan Theta (meditasi/mimpi). Ini seperti membuat otak Raya tidur, tetapi memaksa sebagian kesadarannya untuk tetap bangun dalam kondisi teror." Arka mengaktifkan Nexus Weaver.


Peta Kognitif

Arka tidak bisa menggunakan Proyeksi Penuh sekarang; itu terlalu berbahaya bagi Raya. Ia hanya melakukan Pemetaan Empati, menggunakan Nexus Weaver sebagai resonansi pasif untuk merasakan lingkungan kognitif Raya.

Di monitor Arka, otak Raya ditampilkan dalam model 3D yang berdenyut. Sebagian besar korteks singulatus anterior, pusat kesadaran diri dan emosi, menyala merah padam menunjukkan penekanan hebat.

Tiba-tiba, Arka merasakan tekanan dingin di dadanya. Perasaan non-eksistensi yang ia kenal baik, tetapi kali ini diperbesar seribu kali.

"Ini bukan sekadar depresi," desis Arka, matanya fokus. "Ini adalah Dinding Negasi."

Di peta kognitif, mereka melihat pemandangan aneh: Area emosi Raya ditutupi oleh tekstur abu-abu, seperti semen basah. Di tengah semen itu, ada garis-garis biner vertikal yang berdenyut.

"Lihat! Garis biner itu—itu adalah kode Frekuensi Z! Mereka terus menyiarkannya, bahkan saat dia tidur," seru Arka. "Ini yang menahannya dalam kondisi Cotard. Ini adalah mekanisme kunci yang membuat dia percaya dia 'mati'."

Elara mendekat, terkejut. "Kode itu terlihat sangat terstruktur. Apakah itu semacam watermark?"

"Lebih dari itu. Itu adalah perintah. Perintah digital yang disampaikan melalui infrasound langsung ke alam bawah sadar: Nol. Kosong. Mati."

Gema dari Kegelapan

Saat Arka menekan tombol 'Pencarian Gema' pada Nexus Weaver, ia memasukkan frekuensi suara Raya yang ia rekam ke dalam sistem. Tujuannya adalah mencari resonansi internal. Di tengah Dinding Negasi, tiba-tiba muncul retakan.

Dari retakan itu, muncul sebuah visualisasi singkat: Tujuh ratus tiga puluh lima. Sebuah angka melayang di udara, diikuti oleh gambar buram dari sebuah layar komputer yang menunjukkan spreadsheet dengan kolom-kolom data pemilu.

Dan kemudian, Suara itu. Lebih kuat dari malam sebelumnya, tetapi kali ini disiarkan dengan distorsi yang disengaja. 

"Aku sudah mati... mereka membuat salinanku... Suara ini bukan milikku... Aku menolak angka itu: 735..."

Suara itu adalah campuran yang mengerikan antara suara asli Raya yang ketakutan dan lapisan digital yang halus—sebuah sampel kloning suara yang dimanipulasi 

"Itu adalah Copy Voice yang mereka uji coba!" kata Arka. "Mereka telah membuat prototype suaranya. Mereka menyiarkan Copy Voice itu kembali ke alam bawah sadar Raya, untuk meyakinkannya bahwa bahkan gema terakhir dari identitasnya telah dicuri!"

Raya di tempat tidur bergerak sedikit, air mata mengalir di sudut matanya yang tertutup—reaksi emosional pertama yang dilihat Elara.

"Hentikan, Arka! Anda membuatnya kesakitan!" desak Elara.

Arka segera memutus Nexus Weaver. Peta kognitif Raya kembali ke abu-abu kotor yang stabil.

"Saya tahu di mana suara asli Raya bersembunyi. Di balik Dinding Negasi itu, ada celah, tempat emosinya yang ditolak berjuang," Arka menarik napas. "Kita tidak punya waktu. Sidang sengketa suara MK dimulai dalam 48 jam. Mereka akan menyiarkan klon suara Raya kapan saja. Saya harus melakukan Proyeksi Penuh. Kita harus masuk ke sana dan menariknya keluar."

Elara menatap Arka, melihat tekad dingin yang aneh di mata pemuda itu. Bukan tekad seorang pahlawan, melainkan tekad seorang ilmuwan yang tidak akan membiarkan eksperimen dihancurkan.

"Anda gila. Tapi saya harus mengakui, Anda adalah satu-satunya harapan yang Pasien Nol ini miliki." Elara mengambil langkah mundur. "Mari kita susun rencana untuk membobol Dinding Negasi. Kita butuh pelindung untuk pikiran Anda, Arka. Anda tidak ingin menjadi mayat berjalan yang lain." 

BAGIAN II: THE WALKING DEAD PROTOCOL (PROTOKOL MAYAT BERJALAN)

BAB 5: PERISAI FREKUENSI DAN GERBANG DELTAPersiapan Terakhir

Di ruang pemantauan Ascension Clinic, suasana terasa tegang. Arka dan Elara menyusun rencana infiltrasi yang gila: Arka akan memasuki pikiran Raya, melacak Gema Suara aslinya, dan mencoba meyakinkan kesadarannya yang terperangkap untuk "bangun" sebelum tenggat waktu sidang sengketa suara berakhir. 

"Kita punya waktu 36 jam sampai sidang dimulai," kata Elara, menunjuk ke timeline yang diproyeksikan. "Kita tidak punya waktu untuk coba-coba. Anda harus masuk, ambil bukti, dan keluar."

"Bukti utamanya adalah kesaksian Raya itu sendiri Gema kebenaran di balik Dinding Negasi," Arka mengoreksi. Ia memandang Nexus Weaver yang kini sudah dimodifikasi. Ia telah menambahkan cincin tembaga berlapis perak yang disuplai oleh baterai cadangan. Ini adalah Perisai Frekuensi (Frequency Shield).

"Perisai ini akan memancarkan gelombang Theta balik yang sedikit lebih tinggi. Secara teori, ini akan menetralkan efek Frekuensi Z yang terus-menerus memborbardir alam bawah sadar Raya, menciptakan celah di Dinding Negasi," jelas Arka.

Elara memegang Perisai Frekuensi itu. "Dan bagaimana dengan pikiran Anda sendiri? Anda rentan terhadap Frekuensi Z dan sudah memiliki kecenderungan Delusi Cotard. Jika infrasound itu memecah kesadaran Raya, itu juga bisa memecah kesadaran Anda."

Arka tersenyum tipis—ekspresi wajah yang hampir tidak pernah ia tunjukkan. "Saya sudah mati, ingat? Saya tidak punya emosi untuk dihancurkan. Alam bawah sadar saya adalah gurun yang dilindungi oleh persamaan matematika. Saya akan fokus pada persamaan kebenaran Raya. Itu perlindungan saya."

Pelindung Kimia

Elara tahu Arka butuh lebih dari sekadar kepercayaan diri. "Saya akan memberikan Anda injeksi penstabil kognitif dosis tinggi. Ini akan mempertahankan koneksi neuron Anda tetap stabil, mencegah disosiasi ekstrem. Jika Anda mulai merasakan Delusi Negasi saat di dalam—yaitu, jika Anda merasa tubuh Anda lenyap—itu adalah saatnya Anda harus segera keluar," kata Elara, menyiapkan jarum suntik. "Jika saya gagal keluar sendiri?" tanya Arka.

"Saya akan menarik Anda secara paksa dengan memutus semua koneksi dan memberikan kejutan listrik lembut—sub-ECT—pada Raya untuk memicu respons bangun yang alami. Tapi itu berisiko merusak, baik untuk dia maupun Anda," jawab Elara. Arka menyuntikkan zat itu sendiri. Tubuhnya terasa dingin, tetapi pikirannya terasa tajam, fokus tunggal.

Mereka memindahkan Raya dari kamar perawatannya ke ruang isolasi yang kedap suara dan elektromagnetik, meminimalkan gangguan eksternal. Raya masih dalam kondisi katatonia ringan, matanya terbuka tetapi tidak melihat.Proyeksi Penuh

Arka berbaring di tempat tidur di sebelah Raya. Ia memasang Nexus Weaver yang terhubung dengan Perisai Frekuensi di sekitar kepala Raya. Ia memasang headband sensor untuk dirinya sendiri.

"Frekuensi Theta balik diaktifkan," lapor Arka. "Kita sekarang melawan frekuensi pembawa Delusi Cotard mereka. Ini akan membuat Gema Suara Raya lebih keras." Ia memejamkan mata, membiarkan aliran listrik statis yang lembut merayapi kulitnya. Kali ini, tidak ada kejatuhan yang tenang. Ada tarikan keras ke dalam pusaran kekosongan.

Dunia Mimpi Raya

Arka mendarat. Lingkungannya bukanlah mimpi sureal yang biasanya ia temukan, melainkan sebuah realitas yang brutal dan hampa: Ia berada di sebuah ruangan beton besar, tanpa jendela, tanpa pintu. Semuanya berwarna abu-abu, dingin, dan lembap. Di sudut, ada timbunan pakaian usang—sisa-sisa terakhir dari identitas Raya.

Ini adalah Ruang Penyimpanan Diri Raya, tempat kesadaran utamanya telah "dimatikan" dan diasingkan. Di tengah ruangan berdiri Dinding Negasi. Bukan lagi semen basah, melainkan tembok tebal berwarna hitam legam. Di permukaannya, Arka melihat jutaan untaian kode biner Frekuensi Z yang berkedip-kedip, menjaga agar Raya tetap terkunci dalam keyakinannya bahwa ia adalah 'Nol'.

Arka merasakan dorongan dingin yang akrab, bisikan lembut yang datang dari Dinding Negasi: "Kamu tidak nyata. Kembali ke kehampaanmu."

“Ini ujian,” pikir Arka. Ini bukan kehendak Raya. Ini adalah pertahanan yang diprogram oleh Aethera Labs.

Di belakang Arka, tiba-tiba muncul sesosok tubuh. Itu adalah Raya yang lain. Raya ini pucat, transparan, matanya kosong—seperti hantu dirinya sendiri. "Siapa kamu?" tanya Raya, Gema suaranya parau dan jauh.

"Aku bukan siapa-siapa," jawab Arka, menirukan ketidakpeduliannya sendiri. "Tapi aku di sini untuk mencari suara yang hilang. Suaramu."

Raya Gema menunjuk ke Dinding Negasi. "Suaraku sudah mati. Mereka mengambilnya. Yang tersisa hanyalah Angka Tujuh Ratus Tiga Puluh Lima yang harus aku lupakan. Kembali, orang asing. Kau juga tidak nyata."

Arka menyadari bahwa Copy Voice Aethera telah meyakinkan Gema Raya bahwa penolakan terhadap angka itu adalah kesalahan, dan satu-satunya jalan keluar adalah menerima ketiadaan.

"Aku bisa memecahkan kode yang mengunci Dinding Negasi itu. Aku akan tunjukkan padamu. Angka itu adalah kebenaranmu, bukan kutukanmu," kata Arka.

Di dunia nyata, Elara menatap monitor. Gelombang Theta Arka dan Delta Raya mulai sinkron. Arka sudah masuk jauh.

"Semoga Perisai Frekuensimu berhasil, Arka," bisik Elara. "Karena jika Dinding itu runtuh, kita tidak tahu apa yang akan keluar."


BAB 6: PEMECAH DINDING NEGASIMenembus Perintah Biner

Di dalam Ruang Penyimpanan Diri yang dingin, Arka berdiri berhadapan dengan Dinding Negasi yang menjulang tinggi dan Raya Gema yang transparan. Raya Gema terlihat seperti mayat beku, tetapi mata kosongnya mencerminkan keputusasaan yang nyata.

"Angka itu adalah jebakan, orang asing," kata Raya Gema. "Jika aku mengingat 735, aku akan mengingat rasa sakitnya, kegagalanku. Lebih baik menjadi Nol daripada menjadi pengkhianat."

Arka menyadari bahwa Dinding Negasi tidak hanya ditegakkan oleh Frekuensi Z (perintah digital dari luar), tetapi juga oleh rasa bersalah Raya (perintah psikologis dari dalam). Aethera Labs hanya memanfaatkan lubang trauma ini.

Arka mengeluarkan device kecil dari sakunya—itu adalah proyeksi Nexus Weaver, sebuah kristal yang kini berdenyut lembut dengan gelombang Theta balik dari Perisai Frekuensi.

"Perintahnya adalah Nol, Mati, Kosong," kata Arka, mengarahkan kristal itu ke Dinding. "Tetapi setiap perintah memiliki kebalikannya. Aku akan memecah kode biner yang menahannya."

Arka mulai menguraikan urutan biner di Dinding Negasi. Ia melihat pola yang berulang: 01010011 (Kode S for Silent/Senyap).

Arka menginjeksikan gelombang Theta-nya sendiri, yang dipenuhi dengan frekuensi suara asli Raya yang ia rekam, ke dalam kode tersebut. Ini adalah pertarungan sains melawan psikologis: ia melawan pesan "diam" dengan pesan "bicara". Gelombang Theta Arka bertemu dengan Frekuensi Z.

Tiba-tiba, Dinding Negasi mulai retak dengan suara gemeretak yang menyakitkan. Kode biner itu memanas dan meleleh, dan lapisan beton itu terkelupas. "Apa yang kau lakukan!?" teriak Raya Gema, memegangi kepalanya. "Jangan sentuh keheningan itu!"

Penjaga Salinan

Saat Dinding Negasi retak, pusaran kegelapan muncul. Dari pusaran itu, muncul sesosok tubuh yang sempurna. Itu adalah Raya yang lain—Raya yang berpakaian rapi, berbicara dengan intonasi sempurna, tersenyum sinis.

Ini adalah Salinan Suara (Copy Voice) yang dipersonifikasikan; proyeksi sempurna dari Raya yang akan bersaksi di pengadilan.

"Kamu seharusnya sudah mati, Raya," kata Salinan Suara, suaranya halus dan berwibawa—persis seperti suara Raya sebelum sakit. "Tugasmu sudah selesai. Tugasmu adalah menjadi kehampaan agar aku bisa menjadi suara kebenaran."

Salinan Suara ini adalah perwujudan digital yang ditanamkan Aethera Labs ke dalam pikiran Raya untuk meyakinkannya bahwa klon itu lebih nyata daripada Raya yang asli. "Angka itu salah. Tujuh ratus tiga puluh lima," Raya berbisik. 

Salinan Suara tertawa. "Tujuh ratus tiga puluh lima adalah nomor TPS yang kamu klaim dimanipulasi. Aku akan bersaksi besok bahwa kamu salah ingat. Bahwa kamu menderita delusi akibat tekanan, dan bahwa Pemilu itu bersih. Suaraku sempurna. Suaraku adalah fakta. Suaramu adalah penyakit." 

Arka tahu bahwa jika Gema Raya menyerah pada Salinan Suara, kesadarannya akan lenyap selamanya, dan Salinan Suara akan mengambil alih. Arka kini harus menjadi mediator antara jiwa yang rusak dan klon digital yang sempurna.

Memanggil Sang Saksi

"Dengar aku, Raya!" teriak Arka, suaranya dingin tetapi beresonansi kuat. "Salinan itu tidak bisa merasakan kehampaan! Kamu mati, ya. Tapi kamu 'mati' karena kamu menolak kebohongan. Dia terlalu sempurna untuk menjadi nyata!"

Arka mengarahkan kristal Nexus Weaver ke Raya Gema. "Aku punya rekaman. Aku punya buktinya. Angka 735 yang kau tolak itu adalah kebenaran yang mereka coba hapus. Buktikan bahwa kamu lebih dari sekadar Nol!"

Sambil menahan tekanan dingin dari Salinan Suara, Arka menekan tombol yang disiapkan. Suara Raya Gema yang terdistorsi, yang terekam saat Arka pertama kali memetakan alam bawah sadar, diputar dengan volume rendah:

"Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara... Aku menolak angka itu: 735..."

Mendengar suaranya yang rusak namun jujur, Raya Gema berteriak. Kali ini, itu adalah jeritan yang mengandung emosi. Air mata membanjiri wajahnya yang transparan. 

"Itu... itu aku!"Dinding Negasi, yang kini meleleh, akhirnya runtuh sepenuhnya, memperlihatkan lorong gelap di baliknya. Dari lorong itu, mengalir banjir kenangan: foto-foto spreadsheet data pemilu, catatan pertemuan rahasia, dan wajah-wajah politisi.

Raya Gema tersentak, energinya kembali. "Aku ingat! 735 adalah jumlah suara yang dipindahkan. Buktinya ada di dalam..."

Salinan Suara menyerang, mencoba mencekik Raya Gema. "Diam! Diam! Kamu akan menjadi Nol!"

Arka menembakkan gelombang Theta sisa dari Nexus Weaver, menciptakan shockwave yang menghancurkan Salinan Suara menjadi pecahan kode biner yang terbakar. “Kita sudah dapatkan echo-nya! Sekarang, kita harus kembali!" teriak Arka. 

Di dunia nyata, Elara melihat gelombang otak Raya melonjak tiba-tiba, diikuti oleh kilatan kesadaran. Raya terbatuk dan membuka mata, menatap Elara dengan pandangan yang kacau, tetapi hidup.

"Tujuh ratus... tiga puluh lima..." bisik Raya, lalu pingsan lagi karena kelelahan.

Arka tersentak dari koneksi. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tidak lagi kosong. Ia telah melihat dan merasakan rasa takut Raya.

Dia tahu. Buktinya ada di sana. “Kita harus melindunginya sampai sidang," kata Arka, suaranya sedikit bergetar—tanda bahwa 'kematian' emosionalnya mungkin telah terganggu.


BAB 7: BUNYI LARI DAN BUKTI BISU

Dampak Proyeksi

Arka terbaring di samping Raya, terengah-engah. Rasanya bukan hanya kelelahan fisik, tetapi kelelahan eksistensial. Ia telah merasakan rasa sakit Raya, dan itu telah menembus Dinding Negasi dalam dirinya sendiri. Ia merasakan sedikit ketakutan—sebuah emosi yang telah lama hilang.

"Arka, kondisi Raya stabil. Gelombang otaknya, meskipun berfluktuasi, menunjukkan kesadaran yang terintegrasi. Frekuensi Z mulai melemah," lapor Elara, mematikan monitor. Ia menatap Arka dengan pandangan baru, campuran hormat dan kekhawatiran. "Anda berhasil. Tapi Anda hampir kehilangan diri Anda sendiri. Mereka tahu. Aethera Labs tahu seseorang telah meretas pertahanan mereka," kata Arka, suaranya kembali datar, tetapi sekarang diselimuti kewaspadaan. "Dinding Negasi itu adalah firewall. Ketika runtuh, mereka menerima notifikasi."

Tiba-tiba, alarm internal Ascension Clinic berbunyi. Bukan alarm kebakaran atau alarm medis, tetapi peringatan keamanan perimeter.

"Sial! Kita diserang," desis Elara, mengambil ponselnya dan mengaktifkan protokol penguncian darurat.Pengejaran

Melalui monitor keamanan, mereka melihat dua sosok berjas hitam bergerak cepat di koridor. Mereka tidak mencoba memecahkan pintu; mereka menggunakan device kecil untuk melumpuhkan kunci elektromagnetik. Ini bukan perampok, ini adalah agen profesional.

"Mereka mencari Raya dan Nexus Weaver," kata Arka, bergegas mencabut semua kabel dari Raya dan mengemas Weaver-nya.

"Kita harus keluar dari sini. Sekarang," kata Elara. Ia menggendong Raya yang masih lemah tetapi stabil, sementara Arka membawa Nexus Weaver.

Mereka melarikan diri melalui lorong servis yang sempit. Saat melewati ruang kontrol, Arka sempat meretas database log keamanan Aethera Labs yang ia lacak.

Mereka mengirimkan tim 'Pemulihan Aset' yang dikenal sebagai 'Echo Team'," kata Arka. "Tugas mereka adalah menetralkan Raya dan menghapus semua peralatan anomali."

Mereka berhasil mencapai pintu keluar belakang. Elara sudah menyiapkan mobil cadangan. Saat mereka melaju keluar, mereka melihat agen Echo Team itu berlari di lobi—mereka tampak tidak mencari Raya secara fisik, tetapi suatu sinyal. Mereka menggunakan alat pemindai frekuensi.

"Mereka melacak Frekuensi Theta balik dari Nexus Weaver!" seru Arka. "Mereka melacak artefak yang memecahkan Dinding Negasi."

Bukti Bisu

Mereka bersembunyi di safe house Elara—sebuah apartemen tua dan terisolasi yang tidak terdaftar. Raya dibaringkan di sofa, kondisinya jauh lebih baik. Dia masih lemah, tetapi tatapannya sudah fokus.

"Angka 735... itu benar. Mereka memindahkan suara... suara..." Raya berjuang untuk bicara.

"Jangan paksa, Raya. Kita tahu. Bukti itu ada di alam bawah sadarmu, sekarang kita harus membawanya ke pengadilan," kata Elara lembut. Arka fokus pada data yang berhasil ia ambil saat Proyeksi Penuh.

Di dalam dump data Frekuensi Z, saya menemukan dua hal penting," jelas Arka, memproyeksikan kode dan rekaman suara di dinding.

  Rekaman Suara Raya Asli: Sebuah file audio yang sangat terdistorsi, tetapi bisa direkonstruksi. Itu adalah pernyataan Raya yang sesungguhnya mengenai kecurangan di TPS 735, direkam Aethera Labs sebelum mereka mematikan kesadarannya untuk memastikan apa yang harus mereka copy dan sangkal.

  Kode Watermark Aethera: Sebuah signature digital unik yang tertanam di setiap gelombang Frekuensi Z—bukti tak terbantahkan bahwa Aethera Labs yang memproduksi dan menyiarkan serangan kognitif tersebut.

Ini adalah bukti. Bukan hanya Raya yang bersaksi, tapi data ini membuktikan bahwa mereka menggunakan senjata psikologis digital untuk memenangkan sengketa suara," kata Elara.

"Tapi bukti digital ini mudah disangkal. Mereka akan bilang ini rekayasa. Kita butuh Raya untuk bersaksi secara langsung di MK, dengan suaranya sendiri, menolak Copy Voice mereka yang akan disajikan," ujar Arka.

Tersisa kurang dari 24 jam sebelum Sidang Mahkamah Konstitusi. Pertarungan kini berpindah dari dunia mimpi ke medan pertempuran hukum dan teknologi.

“Kita harus buat Counter-Echo," kata Arka, menatap Nexus Weaver. "Kita harus menggunakan teknologi Dream Travel ini bukan hanya untuk menyelamatkan Raya, tetapi untuk mengekspos mereka di momen krusial."


BAB 8: INFILTRASI MK DAN STRATEGI ECHOStrategi Counter-Echo

Di safe house yang gelap, Arka dan Elara menyusun rencana yang gila dan berisiko tinggi. Raya, meskipun sadar, terlalu lemah untuk memberikan kesaksian verbal yang meyakinkan tanpa risiko kambuh.

"Aethera tidak hanya akan menyajikan Copy Voice Raya; mereka akan menyajikannya sebagai bukti rekaman baru yang berisi pengakuan Raya bahwa dia berhalusinasi," duga Elara, melihat jam digital yang menunjukkan waktu semakin sempit menuju sidang.

Arka memandang Nexus Weaver. "Kita harus menggunakan keunggulan kita: kebenaran yang ada di alam bawah sadar. Kita akan mengubah Nexus Weaver dari alat terapi menjadi alat transmisi."

Rencana Counter-Echo:

  Pengamanan Raya: Raya harus berada di ruang sidang untuk memverifikasi identitasnya.

  Transmisi Tersembunyi: Nexus Weaver akan disembunyikan di bawah pakaian Raya atau dalam barang bawaannya.

  Waktu Krusial: Saat Copy Voice Aethera diputar di ruang sidang, Arka (yang berada di luar, di mobil van yang diparkir dekat MK)akan mengaktifkan Weaver.

  Penyiaran Gema: Weaver akan memancarkan "Gema" Frekuensi Z yang berhasil Arka rekam, tetapi diputar mundur dan dibebani dengan watermark Aethera yang tersembunyi.

  Target: Penyiaran ini tidak ditujukan ke ruang sidang, tetapi ke sumber siaran Copy Voice Aethera—mengacaukan sinyal mereka dan membuktikan sumbernya.

"Kita tidak bisa menyerang MK secara langsung. Kita harus menyerang sistem transmisi mereka," kata Arka. "Frekuensi Z tidak terdeteksi oleh alat jammer standar. Kita akan menggunakan Frekuensi Z mereka sendiri melawan mereka." Elara terlihat gentar. "Jika frekuensi Anda terlalu kuat, itu bisa memicu delusi massal di ruang sidang."

"Saya tahu batasnya. Saya akan menyiarkannya dalam burst kecil, hanya cukup untuk memverifikasi watermark mereka, dan memberikan shockwave kognitif kecil kepada Raya untuk membantunya berbicara," jawab Arka.


Jaringan Lab Aethera

Arka melacak rute data dari Aethera Labs. Perusahaan itu menggunakan kantor cabang di dekat MK sebagai titik transmisi rahasia untuk mengirimkan sinyal Copy Voice dan mungkin juga Frekuensi Z ke ruang sidang.

“Vikram, CEO Aethera Labs, kemungkinan akan berada di ruang sidang. Dia tidak akan mengambil risiko membiarkan rekaman ini bocor. Dia akan mengawasinya secara pribadi," duga Arka.

Elara teringat akan ucapan raya: “Aku sudah mati, tapi mereka memaksaku bicara.”

"Raya harus menguasai dirinya saat kritis. Saya akan memberinya obat penenang minimal. Dia harus tahu bahwa rasa sakit yang dia rasakan saat ini adalah bukti nyata bahwa dia hidup," kata Elara.

Pengiriman dan Penyamaran

Pagi tiba. Kota tampak normal, tetapi bagi Arka dan Elara, setiap suara adalah potensi ancaman. Untuk menyusupkan Weaver, mereka memerlukan penyamaran. Elara menggunakan kredensial dokternya untuk mendapatkan izin membawa Raya ke ruang tunggu khusus MK.

"Nexus Weaver akan disembunyikan di dalam tas medis saya, terbungkus pelindung timah, hanya menyisakan antena mikro yang saya sembunyikan di label nama saya," kata Elara.

Arka, dengan hoodie gelap dan kacamata tebal, mengendarai mobil van sewa yang penuh dengan peralatan pemantauan frekuensi dan generator cadangan. Dia memarkir van itu di sebuah gang yang menghadap langsung ke Gedung MK.

"Saya akan memantau gelombang Beta Anda saat Anda di dalam, Elara. Jika frekuensi jantung Anda naik terlalu tinggi, saya akan tahu Anda dalam bahaya," ujar Arka.

Saat Elara dan Raya memasuki gerbang MK, Raya menoleh ke belakang, matanya yang lelah bertemu dengan mata Arka.

"Tolong. Dapatkan suaraku kembali," bisik Raya.

Arka hanya mengangguk. Dia memandang ke layar: Waktu tersisa: 2 jam 14 menit.

Di dalam Gedung MK, Vikram, CEO Aethera Labs, duduk dengan tenang. Di depannya, di meja pengacara, tersembunyi sebuah remote control kecil untuk aktivasi Copy Voice. Dia tersenyum. Sengketa ini akan segera berakhir dengan klaim palsu tentang delusi yang disiarkan oleh suara yang paling meyakinkan.

Pertarungan tidak lagi terjadi di alam bawah sadar, tetapi di ruang publik, dan senjata mereka adalah kebohongan digital yang sempurna.“Saya akan memantau gelombang Beta Anda saat Anda di dalam, Elara. Jika frekuensi jantung Anda naik terlalu tinggi, saya akan tahu Anda dalam bahaya," ujar Arka.

Saat Elara dan Raya memasuki gerbang MK, Raya menoleh ke belakang, matanya yang lelah bertemu dengan mata Arka.

"Tolong. Dapatkan suaraku kembali," bisik Raya. Arka hanya mengangguk. Dia memandang ke layar: Waktu tersisa: 2 jam 14 menit.


BAGIAN IV: SENGKETA JIWA DAN SUARA (THE DISPUTE OF SOUL AND VOTE)

BAB 9: SUARA YANG DICURI DI RUANG SIDANG

Pengkhianatan Digital

Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi (MK) dipenuhi ketegangan. Hakim-hakim mengenakan jubah, media memadati galeri, dan tim hukum dari kedua belah pihak duduk tegang. Elara menemani Raya, yang duduk di kursi roda dengan selimut menutupi kakinya, menyembunyikan Nexus Weaver yang terbungkus di dalam tas medis Elara.

Vikram, CEO Aethera Labs, duduk di sisi pembela. Matanya yang dingin sesekali melirik Raya, senyum tipis kemenangan.

“Yang Mulia Majelis Hakim, kami telah mendengarkan klaim adanya kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif yang melibatkan Saksi Raya. Namun, kami akan menyajikan bukti yang membantah semua ini. Kami akan membuktikan bahwa klaim Raya hanyalah delusi akibat tekanan berat," ujar pengacara pembela.

"Kami menyajikan rekaman suara terbaru dari Saksi Raya, yang diambil setelah dia menunjukkan perbaikan signifikan. Rekaman ini berisi penarikan kembali kesaksian dan pengakuan bahwa dia berhalusinasi," lanjut pengacara itu, menekan tombol pada remote control kecil di bawah meja.

Di layar besar MK, muncul waveform audio yang tampak bersih. Kemudian, Suara Raya yang sempurna, berwibawa, namun terasa dingin dan palsu, mulai berbicara.

"Saya, Raya, menyatakan bahwa semua klaim saya mengenai TPS 735 adalah kesalahan. Saya berada di bawah tekanan psikologis yang ekstrem. Angka 735 hanyalah angka yang saya karang dalam kondisi delusi negasi. Pemilu ini bersih, dan saya meminta maaf atas kekacauan yang saya timbulkan."

Suara itu sangat meyakinkan, sangat Raya, sehingga galeri sidang berbisik-bisik. Elara menggenggam tangan Raya. Raya gemetar, tatapannya kosong sesaat—Copy Voice itu memicu kembali Delusi Cotard-nya.


Aktivasi Counter-Echo

Di luar gedung, di dalam van yang terparkir, Arka melihat waveform palsu itu di monitornya. Itu adalah Copy Voice yang dipancarkan melalui frekuensi terenkripsi yang berdekatan dengan Frekuensi Z.

"Sekarang," desis Arka. Ia mengaktifkan Nexus Weaver dari jarak jauh.

Arka tidak menyerang frekuensi audio secara langsung. Ia menyerang frekuensi pembawa Aethera Labs dengan Gema Suara Raya Asli yang ia rekam dari dalam alam bawah sadar, dikodekan ke dalam burst Frekuensi Z.

Sistem Weaver: Arka memancarkan burst Frekuensi Z yang sangat pendek dan terfokus, cukup untuk membuktikan asalnya.

Di ruang sidang, tepat saat rekaman Copy Voice Raya berakhir, terjadi keanehan kecil yang hanya diperhatikan oleh mereka yang sensitif. Layar waveform audio di MK berkedip, dan sebuah sub-frequency biner yang sangat cepat muncul di latar belakang rekaman, lalu menghilang.

Elara segera bertindak. Ia berdiri, memohon izin berbicara. "Yang Mulia! Saya, Dr. Elara, psikiater yang menangani Raya, menolak keabsahan rekaman itu! Rekaman itu adalah kloning suara digital yang dikirimkan bersamaan dengan serangan infrasound kognitif yang menyebabkan Delusi Cotard pada pasien saya!"

Elara mengeluarkan ponselnya yang terhubung dengan Nexus Weaver, memproyeksikan kode watermark Aethera yang diambil Arka di dunia mimpi. "Kami punya bukti forensik digital! Frekuensi pembawa rekaman ini memiliki watermark dari Aethera Labs, yang dipimpin oleh Bapak Vikram!"Pengeksposan 

Vikram terlihat panik, tangannya merayap ke remote control di bawah meja.

"Kebohongan!" teriak Vikram. "Ini adalah konspirasi! Itu adalah spekulasi ilmiah yang absurd! Dokter ini berhalusinasi!"

Di tengah kekacauan itu, Raya, yang telah menerima shockwave kognitif dari Counter-Echo Arka, mendongak. Di telinganya, Gema Suara aslinya berteriak.

Raya bangkit dari kursi rodanya. Wajahnya pucat, tetapi matanya dipenuhi api.

"Saya... tidak mati!" teriak Raya, suaranya serak tetapi sangat emosional dan nyata. Ia tidak berbicara dengan kejelasan robotik, tetapi dengan keputusasaan yang baru ditemukan.

“Suara yang kalian dengar adalah kebohongan! Mereka mencoba membunuh jiwaku agar aku tidak bisa mengatakan ini!" Raya menunjuk ke layar.

"Angka 735 bukan delusi! Itu adalah kode spreadsheet yang berisi daftar nama orang yang suaranya mereka curi di bilik TPS! Aku melihatnya! Aku telah melihatnya di mimpi dan sekarang aku melihatnya lagi!" Raya telah menggunakan sisa kekuatannya untuk memberikan kesaksian verbal yang sangat emosional. Ini adalah suara yang tidak bisa ditiru oleh teknologi Copy Voice manapun—suara yang berisi trauma, kesakitan, dan kebenaran yang baru diselamatkan.


Kemenangan Gema

Polisi yang telah dihubungi Elara secara diam-diam segera bergerak, menahan Vikram dan menyita remote control yang berisi pemancar sinyal Copy Voice. Data yang disajikan Elara mengenai watermark dan analisis frekuensi Arka, meskipun awalnya skeptis, menjadi bukti kuat di tengah kesaksian emosional Raya. Sidang dihentikan.

Arka melihat berita utama di van-nya: "Sidang Sengketa Suara Ditangguhkan: Dugaan Penggunaan Kloning Suara dan Senjata Psikologis."

Arka mematikan Nexus Weaver. Tangannya yang memegang tuas transmisi terasa panas. Ia tidak lagi merasakan kekosongan yang dingin. Ia merasakan kelelahan yang nyata, tetapi di baliknya, ada sensasi kecil, seperti air yang menetes ke tanah kering.

“Itu adalah rasa tanggung jawab,” pikir Arka. Dia telah berhasil menyelamatkan suara Raya dan menggoyahkan sengketa suara, tetapi dia tahu bahwa Aethera Labs adalah organisasi besar, dan pertempuran melawan manipulasi realitas baru saja dimulai.





EPILOG: KEBANGKITAN GEMA


Arka: Kembali ke Realitas

Enam bulan telah berlalu sejak sidang sengketa suara yang menghebohkan. Hasil Pemilu telah dibatalkan, dan penyelidikan federal mengenai Aethera Labs dan CEO-nya, Vikram, sedang berlangsung, berfokus pada kejahatan copy voice dan penggunaan senjata infrasound kognitif (Frekuensi Z).

Arka kini duduk di balkonnya, memandangi langit malam Jakarta—kali ini, ia melihat bintang, bukan hanya abu-abu kotor, dengan siluet tirus dengan Cahaya kuning merah keemasan.

Setelah insiden di MK, Arka tidak lagi bisa kembali ke keadaan non-eksistensi fungsional-nya. Sensasi shockwave kognitif yang ia alami saat menembus Dinding Negasi Raya telah menghancurkan penghalang emosionalnya sendiri. Ia mulai merasakan lagi: rasa lelah yang nyata, kepuasan yang tenang, dan ya, ketakutan yang wajar terhadap bahaya yang masih mengintai.

Nexus Weaver telah ia serahkan ke laboratorium keamanan negara sebagai barang bukti, meskipun ia tahu bahwa teknologi Dream Travel itu kini menjadi target utama banyak pihak.

Arka tidak lagi hanya menjadi pembuat dreamcatcher yang kesepian. Ia kini bekerja sebagai konsultan keamanan siber dengan identitas rahasia, memetakan frekuensi anomali yang muncul di jaringan publik. Ia menjadi penjaga perbatasan kognitif.Raya dan Suara yang Diselamatkan

Raya pulih total. Ia tidak hanya sembuh dari Delusi Cotard, tetapi ia juga menjadi aktivis yang jauh lebih kuat. Ia bersaksi di depan komite Kongres, menceritakan pengalamannya diasingkan dari dirinya sendiri oleh teknologi copy voice. Kesaksiannya tidak hanya berfokus pada kecurangan suara, tetapi pada pelanggaran kedaulatan mental yang baru.

"Mereka mencuri suaraku, bukan hanya suaraku sebagai warga negara, tetapi suaraku sebagai manusia," kata Raya dalam kutipan yang menjadi headline global.

Meskipun ia dibayangi trauma akan keyakinan bahwa ia adalah "mayat berjalan," ia menggunakan pengalaman itu sebagai perisai, bukan beban.


Elara: Advokat Kognitif

Dr. Elara menjadi ahli terkemuka di bidang Neurologi Forensik. Ia memimpin gerakan global untuk mengklasifikasikan infrasound yang dimodifikasi (seperti Frekuensi Z) dan copy voice massal sebagai senjata psikologis ilegal.

Ia sering bertemu Arka untuk membandingkan data dan teori. Mereka membentuk kemitraan yang aneh: ilmuwan yang percaya pada batas etika, dan jenius yang hidup melintasi batas-batas itu.

"Vikram mungkin dipenjara, Arka," kata Elara dalam salah satu pertemuan mereka, menatap layar yang menampilkan hasil investigasi yang bocor. "Tapi Project Hush Aethera tidak mati. Teknologinya telah menyebar. Ada kelompok lain di luar sana, yang kini tahu bahwa medan perang yang paling efektif adalah pikiran manusia (mind power)."


Gema yang Tersisa

Arka mematikan layar. Elara benar. Kloning suara yang sempurna dan senjata berbasis frekuensi bukan lagi fiksi ilmiah. Saat Arka berjalan menuju dapurnya, ia mendengar bunyi bip lembut dari burner phone yang ia simpan. Itu adalah notifikasi dari server rahasia.

Pesan itu adalah rekaman audio yang sangat pendek—kurang dari satu detik—sebuah spike frekuensi yang tidak terdeteksi oleh perangkat lunak standar. Arka memutar rekaman itu dan mendengarnya dengan saksama.

Itu adalah sepotong kode biner yang sangat cepat, dikodekan ke dalam gelombang suara Delta. Bukan Frekuensi Z yang kasar, tetapi sesuatu yang jauh lebih halus, lebih tenang. Itu adalah salam dari sesuatu yang baru. Arka mengaktifkan Nexus Weaver terakhirnya, sebuah prototipe yang lebih kecil yang tersembunyi di dalam jam tangannya. Ia melihat gelombang yang masuk itu.

F_(n=)  Δϕ/τ.√G

(Frekuensi baru, sebuah fungsi dari perubahan fase waktu dikalikan dengan konstanta kebangkitan G.)

Arka tersenyum, kali ini senyum yang tulus, mencerminkan adanya tantangan. Pertarungan untuk menyelamatkan jiwa Raya hanyalah pembuka. Seseorang di luar sana, mungkin penerus Vikram, telah menemukan cara baru untuk menargetkan kesadaran.

The Echoes of the Awake—gema dari mereka yang pulih dari kehampaan—kini harus bersiap menghadapi gelombang serangan digital(Butterfly Proxy War) berikutnya ke gerbang persepsi manusia(Visual Reality-Based).


TAMAT

Rabu, 17 Juli 2024

Rumah tanpa atap (assamble

 perjalanan catatan dari doa hati dan pemikiran yang liar


Ya Allah, Jika kau memang mengaku Tuhanku yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pengasih

aku tidak meminta kepadaMu untuk memindahkan Gunung Gede ketengah lautan atau pun menenggelamkannya.

aku pun tidak memintaMu untuk mengeringkan lautan eprat atau pun sungai nil. untuk melihat kekuasaanMu dan KebesaranMu, karena dikatakan pula bagiMu itu mudah dan kecil.

aku pun tidak memintaMU untuk membelah lautan sebagai pelarianku.

jadi, apakah doa kecilku ini cukup sulit untuk dapat kau kabulkan

tentunya kau tidak akan menukar doaku dengan doa orang lain,

bukankah setiap tarikan nafas, detak jantung, darah atau sesuatu hal yang menjadi bagian tubuh ini milikku yang kau ciptakkan. seperti halnya takdirku yang menentukkan jalanku adalah diriku.

jadi apakah cukup sulit permintaanku ini

maafkan aku jika pemikiran aku ini terlalu liar

dan selalu bertanya dan meminta apakah tak ada tempat untuk doaku ini sehingga tidak Engkau ijabah(kabulkan) ataupun belum engkau kabulkan.

maaf jika aku hatiku ini menjadi liar

karena perjalanan hidupku ini terasa liar tak ada yang mengontrolnya

sehingga pemikiran aku pun menjadi liar

sembuhkan aku dari kegelisahan ini, bakar dengki dalam hati ini, 

hancurkan dan tenggelamkan syirik yang ada di tubuhku ini...

remukkan pemikiran liar ku ini...

jangan buat aku cemburu lagi kepadaMU

biarkan kemesraanku denganMu ini membuahkan sesuatu di diriku yang jika engkau pun berkehendak untuk berbagi dengan yang lainnya

smi, 28072013

HATI-HATI TERJADI SENGKETA LISAN

 Oleh : wendi maulana


Assalamualaikum Wr. Wb. 

Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Quran dan hadis (sunah Nabi).  

Dalam Al-Qur’an dengan sangat mudah kita menemukan contoh kongkrit bagaimana Allah selalu berkomunikasi dengan hamba-Nya melalui wahyu. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima pesan melalui ayat-ayat tersebut, Allah juga memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk meredaksi wahyu-Nya melalui matan hadits. Baik hadits itu bersifat Qouliyah (perkataan), Fi’iliyah (perbuatan), Taqrir (persetujuan) Rasul, kemudian ditambah lagi dengan lahirnya para ahli tafsir sehingga melalui tangan mereka terkumpul sekian banyak buku-buku tafsir. Penerapan komunikasi islam terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an seperti QS An-Nahl: 125, QS Al-Baqarah: 83, QS Ali Imran: 154, QS An-Naba’: 2-3, QS Al-Furqan: 63, QS Fussilat: 33, QS An-Nisaa: 154, QS Al-‘Ankabuut: 460 dan masih banyak lagi lainnya. Ayat-ayat diatas memberikan penegasan tentang esensi (hakikat) komunikasi islam sampai kepada tahap pelaksanaannya. 

Selain itu, kita mendapati Rasulullah SAW dalam berkomunikasi dengan keluarga, sahabat dan umatnya. Komunikasi beliau sudah terkumpul dalam ratusan ribu hadits yang menjadi penguat, penjelas Al Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia. Didalam hadits, ditemukan prinsip-prinsip etika komunikasi, bagaimana Rasulullah saw mengajarkan berkomunikasi kepada kita. Misalnya, pertama, qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya). Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa,diamlah). Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu). Keempat, Nabi menganjurkan berbicara yang baik-baik saja, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, “Sebutkanlah apa-apa yang baik mengenai sahabatmu yang tidak hadir dalam pertemuan, terutama hal-hal yang kamu sukai terhadap sahabatmu itu sebagaimana sahabatmu menyampaikan kebaikan dirimu pada saat kamu tidak hadir”. Kelima, selanjutnya Nabi saw berpesan, “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang…yaitu mereka yang menjungkirkan-balikkan fakta (fakta) dengan lidahnya seperti seekor sapi yang mengunyah-ngunyah rumput dengan lidahnya”. Pesan Nabi saw tersebut bermakna luas bahwa dalam berkomunikasi hendaklah sesuai dengan fakta yang kita lihat, kita dengar, dan kita alami.  

Etika bertuturkata atau biasa disebut ada 6 jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yaitu:

1. Qaulan Sadidan (perkataan benar, lurus, jujur)

Kata “qaulan sadidan” disebut dua kali dalam Al-Qur’an. Pertama, Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan, terdapat dalam Firman Allah QS An-Nisa ayat 9 :

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadidan)”.


Apa arti qaulan sadidan? Qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur, (Picthall menerjemahkannya “straight to the point”), lurus, tidak bohong, tidak berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut Al-Quran adalah berkata yang benar. Ada beberapa makna dari pengertian yang benar :

- Sesuai dengan kriteria kebenaran

Arti pertama benar adalah sesuai dengan kebenaran. Dalam segi substansi mencakup faktual, tidak direkayasa atau dimanipulasi. Sedangkan dari segi redaksi, harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku dan sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

Buat kita orang islam, ucapan yang benar tentu ucapan yang sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ilmu. Jadi, kalau kita sedang berdiskusi dalam perkuliahan maupun organisasi harus merujuk pada Al-Qur’an, petunjuk dan ilmu. Al-Qur’an mentindir keras orang-orang yang berdiskusi tanpa merujuk kepada ketiganya, ini ada dalam QS Luqman ayat 20.

- Tidak bohong

Arti kedua dari qaulan sadidan adalah ucapan yang jujur, tidak bohong. Nabi Muhammad saw bersabda: “Jauhi dusta karena dusta membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu kepada kebajikan, membawa kamu pada surga.” Meskipun kepada anak-anak kita tidak dianjurkan berbohong kepada mereka, bahkan seharusnya kita mengajarkan kejujuran kepada mereka sejak dini.


2. Qaulan Balighan (perkataan yang membekas pada jiwa, tepat sasaran, komunikatif, mudah mengerti)

Ungkapan ini terdapat dalam QS An-Nisa ayat 63 yang berbunyi:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.

Kata “baligh” dalam bahasa arab artinya sampai, mengenai sasaran atau mencapai tujuan. Apabila dikaitkan dengan qaul (ucapan atau komunikasi), “baligh” berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat menggunakan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu prinsip qoulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.


3. Qaulan Masyura (perkataan yang ringan)

Dalam komunikasi, baik lisan maupun tulisan, mempergunakan bahasa yang mudah, ringkas dan tepat sehingga mudah dicerna dan dimengerti. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qaulan maisura yang merupakan salah satu tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengertidan melegakan perasaan. 

Dalam Firman Allah dijelaskan: 

وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا

Artinya: “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (QS. Al-Israa’: 28)

Maisura seperti yang terlihat pada ayat diatas sebenarnya berakar pada kata yasara, yang secara etimologi berarti mudah atau pantas. Sedangkan qaulan maisura menurut Jalaluddin Rakhmat, sebenarnya lebih tepat diartikan “ucapan yang menyenangkan,” lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. Bila qaulan ma’rufa berisi petunjuk via perkataan yang baik, qaulan maisura berisi hal-hal yang menggembirakan via perkataan yang mudah dan pantas. 

4. Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut)

Perintah menggunakan perkataan yang lemah lembut ini terdapat dalam AlQur’an:

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Artinya: ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Thaahaa:44).

Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.

Dari ayat tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rasullulah selalu bertutur kata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.


5. Qaulan Karima (perkataan yang mulia)

Islam mengajarkan agar mempergunakan perkataan yang mulia dalam berkomunikasi kepada siapapun. Perkataan yang mulia ini seperti terdapat dalam ayat AlQur’an (QS. Al Isra’ ayat 23) yaitu:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang baik”.

Dengan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa qaulan karimah adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama. Dalam konteks jurnalistik dan penyiaran, Qaulan Karima bermakna mengunakan kata-kata yang santun, tidak kasar, tidak vulgar, dan menghindari “bad taste”, seperti jijik, muak, ngeri, dan sadis.


6. Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik)

Qawlan ma’rufa dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Kata ma’rufa berbentuk isim maf’ul yang berasal dari madhinya, ’arafa. Salah satu pengertian mar’ufa secara etimologis adalah al-khair atau al-ihsan, yang berarti yang baik-baik. Jadi qawlan ma’rufa mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang baik dan pantas. 

Kata Qaulan Ma`rufa disebutkan Allah dalam QS An-Nissa ayat 5 dan 8, QS Al-Baqarah ayat 235 dan 263, serta Al-Ahzab ayat 32. Berikut ini Sabda Allah QS Al-Ahzab ayat 32 ialah:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

Artinya: “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.”


Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini sangat sempurna saking sempurnanya tidak satu biji zahro pun luput dari penglihatannya, contoh kecil apa yang ada di dalam tubuh kita meski tidak terlihat tapi bagian tersebut bisa merasakan apa itu manis, pahit asin atau hambar karena apa yang kita rasakan pertama pun itu sesuatu hal yang baik yang sudah ada jatah atau disiapkan sejak dari kandungan dan pada saat dilahirkan oleh Allah yaitu Air Susu, meski tertutup oleh mulut dan tak bertulang Lidah memiliki begitu banyak fungsinya seperti yang kita rasakan saat ini. 

Lidah seseorang atau disebut juga lisan sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia. Namun ucapan-ucapan yang tidak sesuai dengan tutur kata atau etika komunikasi akan mendatangkan konsekuensi bagi yang mengucapkannya baik itu disadari atau tanpa ia sadari.


Hal ini telah kita lihat atau dengar yang kasus akibat penistaan agama plt gubernur basuki cahaya purnama atau ahok dia dengan tegas mengucapkan beberapa kalimat yang tidak pantas di beberapa media massa (televisi) meski itu ungkapan politis atau pun perkatan emosional. Lisan yang salah diucapkan didunia saja sudah menjadi viral atau dimintai keterangan maksud dan pertanggungjawabannya, apalagi diakhirat. 

jadi hati-hati dengan lisanmu suatu saat nanti akan di akhirat nanti dipertanggungjawabkan 


Ada larangan-larangan yang perlu diketahui dan ini pun yang tidak diketahui oleh ahok : 

- Larangan Memaki Orang Islam Tanpa Haq (Kebenaran)

- Larangan Menyelidiki Kesalahan Orang Serta Mendengarkan Pada Pembicaraan Yang Orang Ini Benci Kalau la Mendengarnya

- Larangan menyakiti 


Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min, lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu yang mereka lakukan, maka orang-orang yang menyakiti itu menanggung kebohongan dan dosa yang nyata." (al-Ahzab: 58)


Karena dengan kasus penistaan agama ini semakin membuka lebar peluang kejahatan yang ada di antara sesama kita maupun sesama orang islam (muslim). Kejahatan apakah itu dunia maya (cyberbullying). 

Kejahatan dunia maya atau Cyberbullying memang sudah ada sejak lama kejahatan dunia maya sebetulnya segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet. Cyber bullying adalah kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.

Cyber bullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai cyber crime atau cyber stalking (sering juga disebut cyber harassment).


hal apa yang perlu di lakukan seseorang atau seorang muslim adalah ketika mengalami kesulitan, kebuntuan dan ketika hawa nafsu berada 


Anas r.a.: Sekarang banyak diantaramu lakukan perbuatan dan dianggap biasa-biasa, tetapi pada masa Rosul perbuatan itu adalah nerusak agama (BUKHORI)


Sebagai penutup sekaligus doa yang saya kutip dari surat al mai’dah ayat 114 “......ya tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami dan menjadi tanda kekusaan engkau; berilah kami rezeki, dan engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”


#Catatan penulis : (Plagiat(copypaste) to clam)


refference:

- https://www.academia.edu/11167050/ETIKA_KOMUNIKASI_DALAM_PERSPEKTIF_ISLAM

- Kajian subuh di mesjid al muhajirin taman krakatau mengenai bab larangan kitab Riyadus-Shalihin

Kamis, 19 Januari 2023

Bumbu kue pernikahan

 Bagi yang sudah menikah, kue perkawinan ini diperlukan untuk mengingatkan & direnungkan. Bagi yang

belum menikah kue ini untuk bahan masukan, supaya jangan salah adonan. Silahkan mencoba!!!

KUE PERKAWINAN

Bahan :

1 pria sehat,

1 wanita sehat,

100% Komitmen,

2 pasang restu orang tua,

1 botol kasih sayang murni.

Bumbu:

1 balok besar humor,

Subhan ibn Abdullah 12 of 50 1/31/2007

Pattaya, Thailand Nikah

25 gr rekreasi,

1 bungkus doa,

2 sendok teh telpon-telponan,

5 kali ibadah/hari tapi lebih baik jika lebih dari itu

Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang).

Tips:

1. Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.

2. Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan

(sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya

terjamin.)

3. Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan

harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa

merusak kesehatan.

4. Gunakan Kasih sayang cap "DAKWAH" yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen

Kesehatan dan Kerohanian.

Cara Memasak:

1. Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.

2. Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.

3. Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api merata sekitar 30 menit didepan

penghulu.

4. Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.

5. Kue siap dinikmati.

Catatan:

Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat.

Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta

beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven ber merek "Tempat Ibadah". Setelah mulai

hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan. Selamat mencoba, dijamin semuanya halal koq!.

Selasa, 23 Februari 2021

Final AutoFaucet | DutchyCorp.space

Final AutoFaucet | DutchyCorp.space: Earn cryptocurrencies like Tron, Bitcoin, Ethereum, Litecoin and more with this enhanced autofaucet! Many Features like Offerwalls, Contests and Games.

Jumat, 05 Februari 2021

Batik is our culture

 

oleh : Wendi Maulana Akhirudin

Sebagaimana kita ketahui bagian dari ragam budaya di Indonesia dimana unesco mulai mengakui Batik sebagai wasiat dunia (Heritage) tak benda. Karena menyimpan sebuah bentuk budaya yang tersimpan pada sebuah kain, sebagaimana kita ketahui menyimpan begitu cerita dan sarat akan makna. 

Batik sendiri di tinjau dalam bahasa mengandung arti menulis pada selembar kain, karena batik berasal dari kata amba yang berarti kain dan nitik yang berarti menitik atau menulis. Yang bearti batik adalah menulis pada selembar kain, dan alat penitikannya bukan berupa pinsil tapi pena yang digunakan adalah canting, dan lilin malam sebagai perekat pada kain. Sehingga menyebabkan batik memiliki aneka ragam warna adalah lilin malam merekatkan banyak warna. Jadi batik menurut pendapat penulis batik diartikan seni bahasa pada kain. Kenapa? 

Pertama, batik memiliki banyak cerita di setiap motifnya, yang berarti itu bisa sebuah motif yang memiliki nilai sejarah atau sebuah peristiwa sebab-sebab dibuatnya motif batik. Kedua, batik menyiratkan akan makna, yang berarti motif mengisyaratkan akan arti baik itu secara mendalam ataupun tidak. Dan ketiga, batik menyiratkan akan doa atau harapan, sebagaimana kita ketahui doa atau harapan sesuatu hal permintaan yang belum ada secara nyata didapatkan. 

Jika kita tinjau orang-orang zaman dahulu membuat batik membuat batik menurut pendapat penulis tidak terlepas dari 3 unsur tersebut cerita, makna dan doa atau harapan.

Batik truntum misalnya diciptakan oleh permaisuri sunan paku buwana III dari Surakarta Hadiningrat yaitu kanjeng ratu  kencana atau biasa disebut ratu beruk yang memiliki makna cinta yang tumbuh kembali. Jika kita perhatikan dengan seksama, batik truntum mempunyai tatanan yang tampak seperti jajaran bintang yang gemerlap dimalam hari. Sejarah batik truntum berawal dari sang ratu beruk yang tak mampu memberikan keturunan kepada pakubuwono III sehingga membuat sang raja berniat untuk menikah lagi.

Sang ratu sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena keputusan sang Raja tidak dapat diganggu-gugat, kemudian sang ratu merenung sambil menatap bintang dilangit. Untuk mengusir kesendirian  dan kesedihannya, sang ratu mulai melakukan kegiatan membatik dengan membuat motif batik bintang dilangit kelam yang selama ini selalu menemani kesendiriannya. Hal tersebut menjadi sebuah refleksi dan harapan yaitu suasana langit ditengah malam tiada bulan, namun masih terdapat banyak bintang sebagai penerang langit malam dimana selalu ada kemudahan dan harapan didalam kesulitan. Motif batiknya seperti taburan kuntum bunga melati, atau seperti bintang yang bertaburan di langit. 

Jika saya tinjau meski mungkin tak ada sangkut pautnya, batik truntum dimaknai jangan terlalu bersedih woles dan jangan baperan sebagaimana dalam surat ad dhuha ayat 3-5. Dan ini suatu sikap yang diambil ketika sang ratu dalam mengamalkan di setiap nitiknya pada kain tersebut, berbulan-bulan lamanya penantian panjang cinta itu pun kembali bersemi diantara sang ratu dan sang raja.bermakna cinta yang tumbuh kembali. Dia menciptakan motif ini sebagai symbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). 

Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru. sebagai isyarat bahwa doa atau harapan kedua mempelai bisa menjadi keluarga yang harmonis atau sakinah mawadah warohmah.

Batik wahyu tumurun diciptakan ketika Raja Sultan Hamengkubuwana I di Yogyakarta  akan melakukan itikaf pada 10 malam terakhir di bulan ramadhan agar pada malam terakhir di bulan ramadhan bisa mendapat malam seribu bulan atau lailatu qadar. sehingga direfleksikan pada motif Redi yang isaratakan sebagai representatif  Gunung bercahaya dengan gua di tengahnya, Jabal Nur dan Gua Hira’; tempat wahyu pertama turun, sebagai turunnya alquran pertama kali dan motif Elar: Sayap malaikat.Sawung: Ayam jago. Pertanda waktu fajar, Sebagaimana terdapat pada (QS. Al-Qadr [97]: 4-5). Ketopong (mahkota terbang). Karena penghafal Al Qur’an dipakaikan mahkota yang bersinar melebihi cahaya mentari. Lung-lungan (cabang-cabang tumbuhan). Sebab, yang “akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24). Kusuma (bunga) dan buah Sawo Kecik (sarwo becik; serba baik). Sebab, akhlak pembaca Al Qur’an harus harum mewangi dan manis rasanya (Surah Ibrahim [14] ayat 25). Isen-isen Keras (susunan batuan granit di pegunungan), sebagai pengingat bahwa gunung pun akan hancur karena takut pada Allah jika Al Qur’an diturunkan padanya (Surah Al Hasyr [59] ayat 21). Dan jangan sampai hati kita mengeras bagai batu, padahal di antara batu pun ada yang di selanya mengalir sungai; ada yang terbelah kemudian memancarkan air; dan ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (Surah Al Baqarah [2] ayat 74).

Batik tambalan dibuat sebagai doa agar mengharapkan si pemakai dalam keadaan sakit bisa sembuh dari sakitnya, dan ini pun di isyaratkan ketika orang yang melihat pemakai nya bisa mendoakan untuk kesembuhan bisa normal kembali seperti dahulu lagi. Karena arti tambal bermakna menambal atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Dalam perjalanan hidupnya, manusia harus memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lahir maupun batin. Dahulu, kain batik bermotif tambal dipercaya bisa membantu kesembuhan orang yang sakit. Caranya adalah dengan menyelimuti orang sakit tersebut dengan kain motif tambal.

Begitupun di berbagai daerah lainnya batik terdapat 3 unsur atau hanya salah satu unsur tersebut. Misalnya batik banten karena saya sudah beberapa bulan di banten, bahwa batik banten itu di awali dari hasil penelitian dari peninggalan benda purbakala yang ada di banten, sebagaimana yang diungkapkan pa uke kurniawan selaku pemilik batik banten, dari segi motif di torehkan pada kain dari tempat-tempat atau desa, nama gelar di kesultanan banten. Motif datulaya, sebagai tempat tinggal atau tata ruang kesultanan. Motif pangidelan abang, pangidelan putih dan pangidelan emas motif batik ini adalah tempat drainase irigasi air yang ada di tasikardi. 

Nah, sehingga batik jika di tinjau kembali ke dalam kajian komunikasi lintas budaya dengan kondisi kekinian adalah dititik beratkan pada proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan “pintu gerbang”agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication. Sehingga batik bisa di kenal oleh generasi milenial, generai Z, hingga generasi alfa, tidak hanya mengenal saja tapi bisa memahami dan mencintai, meski bukan sebagai pelaku sejarah tapi pengguna atau penjaga nilai sejarah.kenapa harus dijaga? Sebab pertama batik telah di akui unesco sebagai wasiat budaya tak benda (heritage culture) sebab lainnya meningkatkan ekonomi, sebagaimana kita tahu diantara nilai sejarah yang ada terkadang masih saja ada tangan-tangan jahil atau kotor yang berani merusak (vandalisme), seperti apa yang telah terjadi pada candi borobudur tahun 2018. 

ada yang berkata bahwa "siapa yang tidak mengenal sejarahnya dia tidak mengenal dirinya, siapa yang tidak mengenal dirinya dia tidak mengenal tuhannya",karena itu  batik mesti terjaga nilai-nilainya, sehingga unesco masih tetap mengakui batik sebagai heritage culture.

Kamis, 04 Februari 2021

Rumah Tanpa Atap III

 Dingin malam dan bulan tepat tengah berada diatas kepala,

dengan dibarengi rintikan hujan dan hembusan angin, 

bumi terhampar aku menjalani meski tertatih

berjalan gegap pada 11 langkah terhenti,

diiringi dilangkah akhir sebuah request penjaga diri, alam sekitar dan pembawa gegap gempita cahaya yang menyertai seluruh alam.


Pasawahan, 25122020