Jumat, 11 Desember 2015

Wacana Masa Bimbingan Mahasiswa - Pola dasar Training



Arahan Training

Adalah suatu pedoman yang dijadikan petunjuk atau penuntun yang menggambarkan arah yang harus dituju dalam keseluruhan proses pertrainingan Mahasiswa Baru. Arah pertrainingan sangat erat kaitannya dengan tujuan perkaderan, dan tujuan OSPEK sebagai tujuan umum yang hendak dicapai HIMAKOM merupakan titik sentral seluruh kegiatan dan usaha-usaha HIMAKOM. Oleh karena itu tujuan OSPEK merupakan titik sentral dan garis arah setiap kegiatan perkaderan, maka ia merupakan ukuran tau norma dari semua kegiatan HIMAKOM.

1.            Jenis-Jenis Training
1.1.      Traning Formal
Training Formal adalah training berjenjang yang diikuti oelh Mahasiwa Baru, dan setiap Jnejang merupakan prasyarat untuk mengikuti jenjang selanjutnya. Training formal HIMAKOM terdiri dari : Dasar-Dasar Kemahasiswaan I(Basic Training), Dasar-Dasar Kemahasiswaan II (Intermediate Training), Dasar-Dasar Kemahasiswaan (Advence Training)

1.2.      Training In-Formal
Training in-formal adalah training yang dilakukan dalam rangka meningkatkan pemahaman dan profesionalisme, kemahasiswaan, kemasyarakatan, kepemimpinan serta keorganisasian. Training terdiri dari Bulan Baca, Diskusi,, Pelatihan Instruktur, Latihan Khusus Keperempuanan bagi yang menyukainya, Up-grading Materi, Pelatiahan Minat Bakat, dan lain sebagainya.

2.            Tujuan Training menurut jenjangnya dan jenis
Tujuan training perjenjang dimaksudkan sebagi rumusan sikap, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mahasiswa baru setelah mengikuti jenjang Training Kemahasiswaan tertentu, Yakni Dasar-Dasar Kemahasiswaan I, II, dan III. Sedangkan tujuan menurut jenis adalah rumusan sikap, pengetahuan dan kemampuan mahasiswa baru, bauk kemampuan intelektualitas maupun kemampuan keterampilan setelah mengikuti traning atau pelatiahan tertentu yakni berupa training formal dan informal.
2.1.      Tujuan Training Formal
         2.1.1     Dasar-Dasar Kemahasiswaan I
“Terbinanya kepribadian yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi peranannya dalam bermasyarakat serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa.”
2.1.2    Dasar-Dasar Kemahasiswaan II
“Terbinannya kader yang mempunyai kemampuan intelektual dan mampu mengelola HIMAKOM serta berjuang untuk meneruskan dan mengembannya”
2.1.3     Dasar-Dasar Kemahasiswaan III
“terbinanya kader pemimpin yang mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional secara professional dalam gerak perubahan social”

2.2.      Training In-formal
“Terbinanya kader yang memiliki skill dan profesionalisme dalam bidang manajerial, keinstrukturan, keorganisasian, kepemimpinan dan kewirausahaan dan profesiaonalisme lainnya.”


3.            Target Training Perjenjang
3.1.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi I
  • Memiliki kesadaran menjalankan keilmuannya dalam kehidupan sehari-hari
  • Mampu meningkatkan kemampuan akademis
  • Memiliki kesadaran akan tanggung jawab keumatan dan kebangsaan
  • Memiliki kesadaran berorganisasi
3.2.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi II
·         Memiliki kesadaran intelektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif
  • Memiliki kemampuan manajerial
  • Memiliki kepekaan terhadap aspek-aspek kehidupan dan nrma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
  • Memiliki kepekaan terhadap dasar-dasar metodelogi ilmu sehingga mampu mengembangkan ilmu komunikasi.
3.3.      Orientasi Mahasiswa Komunikasi III
  • Memiliki kemampuan kepemimpinan yang amanah serta mampu menterjemahkan dan mentransformasikan pemikiran konsepsional dalam dinamika perubahan sosial.
  • Memiliki Kemampuan mentransformasikan pemikiran konsepsional yang sesuai dengan realitas yang ada dan tidak mengada-ada realitas (hyperealitas).
  • Memiliki kemampuan menganalisa fenomena sosial politik yang dipenuhi dengan permainan tanda-tanda semu.

Manajemen Training

1.            Methode Penerapan Kurikulum
Kurikulum yang terdapat dalam pedoman merupakan penggambaran tentang methode dari training. Oleh sebab itu penerapan dari kurikulum adalah erat hubungannya dengan masalah yang menyangkut methode-methode yang dipergunakan dalam training. Demikian pula materi training memiliki keterpaduan dan kesatuan dengan methode yang ada dalam jenjang training. Dalam hal ini, untuk penerapan kurikulum training ini perlu diperhatikan beberapa aspek.
1.1.            Penyusunan jadwal materi training. Jadwal taining adalah sesuatu yang merupakan gambaran tentang isi dan bentuk-bentuk training. Oleh sebab itu perumusan jadwal training hendaknya menyangkut masalah-masalah:
·         Urutan materi hendaknya dalam penyusunan suatu training perlu diperhatikan urutan-urutan tiap-tiap materi yang harus memiliki koleraaasi dan tidak berdiri sendiri (Asas Integratif). Dengan demikian materi-materi yang disajikan dalam training selalu mengenal prioritas dan berjalan secara sistematis dan terarah, karena dengan cara seperti itu akan menolong peserta dapat memahami materi dalam training secara menyeluruh dan terpadu.
  • Materi dalam jadwal training harus selalu disesuaikan dengan jenis jenjang Training.

1.2.            Cara atau bentuk penyampaian materi training. Cara penyampaian materi-materi training adalah gabungan anatara ceramah dan diskusi/dialog. Semakin tinggi tingkatan suatu training atau semakin tinggi tingkat kematangan peserta training, maka semakin banyak forum-forum komunikasi idea (dialog/diskusi). Suatu Materi harus disampaikan secara diskutif, artinya instruktur bersama master of training berusaha memberikan kesempatan-kesempatan.
1.3.            Adanya penyegaran kembali dalam pengembangan gagasan-gagasan kreatif dikalangan anggota trainer; Forum training sebagai penyegar gagasan trainers, sedapat mungkin dalam forum tersebut tenaga instruktur dan master of training merupakan pioneer dalam gagasan kreatif. Meskipun gagasan-gagasan dan problea-problema yang disajikan dalam forum belum sepenuhnya ada penyelesaian secara sempurna. Untuk menghindari pemberian materi secara indoktrinatif dan absolustik maka penyuguhan materi hendaknya di targetkan pada pemberian alat-alat ilmu pengetahuan secara elementer. Dengan demikian pengembangan kreasi dan gagasan lebih banyak diberikan pada trainers.
1.4.            Usaha menimbulkan kegairahan (motivasi) antara sesame unsure individu dalam forum training; untuk menumbuhkan kegairahan dan suasana dinamik dalam training, maka forum semacam itu hendaknya merupakan bentuk dinamika group. Karena itu forum training harus mampu memberikan “chalange” dan menumbuhkan respon yang sebesar-besarnya. Hal ini dapat dilaksanakan oleh instruktur, asisten instruktur dan master of training.
1.5.            Terciptanya kondisi-kondisi yang equal (setara) antara sesame unsure individu dalam forum training; menciptakan kondisi equal antara segenap unsure dalam training berarti mensejajarkan dan menyetarakan semua unsure yang ada dalam training. Problem yang dihadapi adanya kenyataan-kenyataan “kemerdekaan individu” dengan mengalami corak yang lebih demokratis. Dengan demikian pula perbedaan secara psikologis unsure-unsur yang ada akan lebih menipis disebabkan hubungan satu dengan lainnya diwarnai dengan hubungan kekeluargaan antara senior dan yunior.
1.6.            Adanya keseimbangan dan keharmonisan antara methode training yang dipergunakan dalam tingkat-tingkat training; keseimbangan dan keharmonisan dalam methode training yakni adanya keselarasan tujuan OSPEK dan target yang akan dicapai dalam suatu training. Meskipun anatr jenjang/forum training memiliki pebedaan-perbedaan karena tingkat kematangan peseta sendiri.

2.                  Kurikulum Training
2.1.            Materi Training Kemahasiswaan I

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Sejarah Perjuangan Mahasiswa
Alokasi Waktu :
3 Jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat   memahami sejarah dan dinamika Perjuangan Mahasiswa

Tujuan Pembeelajaran Khusus

  1. peserta dapat menjelaskan latarbelakang mahasiswa
  2. peserta
Metode :
Ceramah, Tanya jawab, diskusi
Evaluasi :
Memberikan test objektif/subjektif dan penuigasan dalam bentuk resume

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
MATERI :
Semiotika I
ALOKASI WAKTU :
3 JAM
Tujuan pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami latar belakang Perumusan dan kedudukan semiotika serta substansi materi secara garis besar

Tujuan pembelajaran khusus

  1. Peserta dapat menjelaskan sejarah Perumusan Semiotika dan kedudukannya sebagai disiplin ilmu


Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Management Kepemimpinan
Alokasi Waktu :
3 Jam

Tujuan Pembelajaran Umum

Peserta dapat memahami pengertian, dasar-dasar, sifat dan fungsi kepemimpinan, dan manajemen

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            Peserta mampu menjelaskan pengertian dasar-dasar fan sifat serta fungsi kepemimpinan
2.            Peserta mampu menjelaskan pentingnya fungsi kepemimpinan dan manajeman dalam organisasi
3.            Peserta dapat menjelaskan dan mengapresiasikan kharakteristik kepemimpinan dalam sudut mana pun.
Metode :
Ceramah, diskusi, Tanya jawab, studi kasus, simulasi
Evaluasi :
Test Partisipatif, test Objektif/subjektif

Jenjang :
Training Kemahasiswaan I
Materi :
Filsafat Ilmu
Alokasi Waktu ;
4 jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami pengertian, kegunaan akal dgan akal bias mencari kebenaran

Tujuan Pembelajaran Khusus



2.2.            Materi Orientasi Mahasiswa Komunikasi II

Jenjang :
Training kemahasiswaan II
Materi :
Teori-teori Perubahan Sosial
Alokasi Waktu :
4 jam

Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami dan menjelaskan tentang perubahan social

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            peserta dapat menjelaskan teori-teori perubahan sosial
2.            peserta dapat menjelaskan dan merumuskan tentang perubahan sosial.

Metode :
Ceramah, diskusi, studi kasus
Evaluasi :
Test objektif/subjektif, penugasan dengan menganalisa kasus sosial.

Jenjang :
Training Kemahasiswaan II
Materi :
Manajemen Kepemimpinan
Alokasi waktu :
3 jam
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta dapat memahami dan meiliki kedalaman pengetahuan tentang manajeman dan kepemimpinan

Tujuan Pembelajaran Khusus

1.            Peserta memiliki kedalaman pengetahuan dalam kepemimpinan, manajeman dan organisasi
2.            Peserta dapat merumuskan serta merencanakan pelaksanaan Manajemen Kepemimpinan      

Metode :
Ceramah, diskusi, Studi Kasus
Evaluasi :
Test objektif, subjektif, analisis kasus


2.3.              Materi Orientasi Mahasiswa Komuikasi III


3.                  Metode Training

4.                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar